Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts
Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts

Friday, July 10, 2026

Liburan 3 Hari 2 Malam di Yogyakarta Bersama Keluarga Besar: Serunya Menjelajahi Merapi, Prambanan, Malioboro hingga Solo

 Yogyakarta selalu punya cara untuk membuat orang ingin kembali. Bukan hanya karena deretan destinasi wisatanya yang tak pernah membosankan, tetapi juga karena keramahan masyarakatnya, kuliner yang menggoda, serta suasana kotanya yang selalu menghadirkan rasa rindu.

Beberapa waktu lalu, keluarga besar kami yang berjumlah sekitar 40 orang memutuskan menghabiskan liburan selama 3 hari 2 malam di Yogyakarta. Perjalanan ini bukan sekadar agenda wisata, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan lintas generasi. Mulai dari anak-anak, orang tua, hingga kakek dan nenek, semuanya ikut menikmati setiap detik perjalanan.

Inilah cerita perjalanan kami.



Hari Pertama: Berangkat dari Bandung, Langsung Menjelajah Lereng Merapi

Perjalanan dimulai dari Stasiun Bandung sekitar pukul 20.00 WIB. Dengan jumlah peserta yang mencapai 40 orang, suasana kereta terasa begitu meriah. Rasanya seperti memiliki satu gerbong sendiri.

Anak-anak sibuk bermain dan berpindah tempat duduk untuk mengobrol dengan sepupu-sepupunya. Orang dewasa saling berbagi camilan, bercengkerama, hingga sesekali tertawa karena berbagai cerita yang muncul sepanjang perjalanan malam.



Tanpa terasa, pagi pun tiba.

Sesampainya di Stasiun Tugu Yogyakarta, bus wisata dari Dana Real Transport dgn Tour Leadernya Mas Odhie telah menunggu untuk mengantar kami menuju destinasi pertama, yaitu kawasan Gunung Merapi. Mas Odhie sambil bus berjalan menuju lokasi menjelaskan itinerary hari ini sambil diiringi lagu-lagu dari Sheila On 7 dan lagu bernuansa Jogja. 

Memacu Adrenalin dengan Jeep Lava Tour Merapi

Tak ada waktu untuk bermalas-malasan. Setelah menyimpan barang di bus, kami langsung berganti kendaraan menggunakan jeep yang akan membawa kami menyusuri jalur lava Merapi.

Sensasi berkendara di atas jalan berbatu, menyeberangi sungai kecil, hingga melintasi bekas aliran lahar menjadi pengalaman yang benar-benar berbeda.

Setiap jeep dipenuhi gelak tawa. Saat kendaraan menghantam genangan air atau melewati tanjakan curam, terdengar teriakan spontan yang justru membuat perjalanan semakin seru.

Di beberapa titik, kami berhenti untuk menikmati panorama Gunung Merapi yang berdiri gagah di kejauhan. Kamera dan ponsel hampir tak pernah berhenti bekerja karena setiap sudut layak diabadikan.



Bagi sebagian anggota keluarga, inilah pengalaman pertama mengikuti Jeep Lava Tour Merapi, dan hampir semua sepakat bahwa aktivitas ini menjadi salah satu highlight selama liburan.






Makan Pagi di Kopi Bukan Luwak, Ada Cerita yang Tak Terlupakan

Menjelang siang, rombongan berhenti untuk makan siang di Kopi Bukan Luwak, sebuah tempat yang nyaman untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Usai makan siang, sebagian anggota keluarga memanfaatkan waktu untuk menunaikan salat di musala yang tersedia. Sementara rombongan lain mulai kembali ke bus karena perjalanan menuju Solo akan segera dilanjutkan.

Ketika bus hampir berangkat, panitia rombongan melakukan pengecekan jumlah penumpang. Ternyata... ada satu orang yang belum kembali.

Suasana bus yang semula tenang langsung berubah menjadi riuh. Beberapa anggota keluarga turun untuk mencari ke berbagai sudut restoran. Ada yang mengecek area parkir, ada yang kembali ke ruang makan, sementara yang lain mulai mencoba menghubungi lewat telepon.

Tak lama kemudian, sosok yang dicari akhirnya ditemukan. Rupanya ia tertidur pulas di dalam musala setelah menunaikan salat. Dugaan kami, perpaduan rasa kenyang setelah makan siang dan sejuknya suasana musala membuatnya tanpa sadar terlelap.

Begitu dibangunkan, ia tampak sedikit kebingungan karena hampir saja ditinggal rombongan. Sontak seluruh keluarga tertawa lega. Sejak saat itu, kejadian tersebut menjadi bahan candaan sepanjang sisa perjalanan, bahkan masih sering diungkit ketika kami berkumpul hingga sekarang.

Momen sederhana seperti inilah yang justru membuat sebuah perjalanan menjadi lebih berkesan. Destinasi wisata memang penting, tetapi cerita-cerita spontan yang terjadi di luar rencana sering kali menjadi kenangan yang paling lama diingat.

Malioboro Selalu Punya Cerita

Dari kawasan Merapi, perjalanan dilanjutkan menuju ikon wisata Yogyakarta, Malioboro.

Begitu turun dari bus, rombongan langsung memiliki agenda masing-masing.

Para ibu dan anggota keluarga perempuan langsung berburu batik, tas, sandal, hingga berbagai oleh-oleh khas Jogja.



Sementara itu, karena hari tersebut bertepatan dengan hari Jumat, para pria memanfaatkan waktu untuk melaksanakan salat Jumat sebelum kembali berkumpul bersama rombongan.

Setelah semuanya selesai, kami kembali berjalan santai menikmati suasana Malioboro yang selalu hidup. Pedagang kaki lima, seniman jalanan, wisatawan dari berbagai daerah, hingga aroma kuliner khas Jogja membuat kawasan ini selalu terasa istimewa.

Makan Siang di Gudeg Yu Djum Pusat

Rasanya belum lengkap berkunjung ke Yogyakarta tanpa menikmati sajian gudeg yang menjadi ikon kuliner kota ini. Untuk makan siang, rombongan menuju Gudeg Yu Djum Pusat, salah satu rumah makan gudeg legendaris yang telah menjadi tujuan wisata kuliner selama puluhan tahun.

Di meja makan tersaji seporsi gudeg lengkap dengan nasi hangat, ayam kampung, telur, krecek yang gurih pedas, serta tahu dan tempe bacem yang kaya cita rasa. Perpaduan rasa manis khas gudeg dengan gurihnya lauk-pauk menciptakan pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.

Bagi beberapa anggota keluarga yang baru pertama kali mencicipi gudeg asli Yogyakarta, makan siang ini menjadi pengalaman yang berkesan. Sementara bagi yang sudah pernah datang ke Kota Gudeg, menikmati hidangan di Gudeg Yu Djum selalu menghadirkan rasa rindu yang sama.

Perut kenyang, tenaga kembali terisi, dan rombongan pun siap melanjutkan agenda berikutnya.

Istirahat dan Malam Kebersamaan

Menjelang sore kami menuju penginapan untuk melakukan check-in.

Setelah perjalanan panjang sejak malam sebelumnya, semua menikmati waktu untuk beristirahat sejenak.

Namun keseruan belum selesai.

Malam harinya, seluruh anggota keluarga kembali berkumpul untuk mengikuti berbagai permainan yang telah dipersiapkan. Games sederhana ternyata mampu menghadirkan tawa yang luar biasa. Anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut larut dalam suasana.

Makan malam pun terasa semakin spesial ketika puluhan porsi sate yang telah dipesan sebelumnya diantarkan langsung ke penginapan.

Menikmati sate hangat sambil berbincang dan bercanda bersama keluarga menjadi penutup yang sempurna untuk hari pertama.

Hari Kedua: Mengagumi Kemegahan Candi Prambanan

Hari kedua diawali dengan sarapan bersama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan.

Begitu memasuki kawasan candi, kami langsung dibuat kagum oleh kemegahan bangunan berusia lebih dari seribu tahun tersebut.

Deretan candi yang menjulang tinggi dengan relief yang masih terjaga menjadi bukti kejayaan peradaban masa lalu.

Kami berjalan santai mengelilingi kompleks candi, berfoto bersama di berbagai sudut, serta menikmati suasana pagi yang masih cukup sejuk.



Anak-anak pun tampak antusias mendengarkan cerita mengenai legenda Roro Jonggrang yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran.

Prambanan bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang belajar yang menyenangkan tentang sejarah dan budaya Indonesia.

Mencicipi Masakan Legendaris di RM Adem Ayem

Menjelang makan siang, rombongan tiba di RM Adem Ayem, rumah makan legendaris yang berada di kawasan depan Kantor Wali Kota Solo "Loji Gandrung". Tempat makan yang telah berdiri puluhan tahun ini menjadi salah satu tujuan kuliner favorit wisatawan maupun masyarakat lokal.

Suasana rumah makan yang nyaman membuat seluruh anggota keluarga bisa menikmati makan siang dengan santai. Beragam menu khas Jawa tersaji di meja, mulai dari ayam goreng, sup, aneka sayuran, hingga hidangan tradisional dengan cita rasa rumahan yang begitu menggugah selera.

Setelah pagi dihabiskan dengan berjalan kaki mengelilingi Prambanan, makan siang di RM Adem Ayem terasa seperti hadiah yang sempurna sebelum melanjutkan perjalanan.


Berburu Batik di Pasar Klewer, Solo

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kota Solo.

Tujuan utama kami adalah Pasar Klewer, surga bagi pecinta batik.

Lorong-lorong pasar dipenuhi berbagai kios yang menjual kain batik, pakaian jadi, aksesori, hingga aneka suvenir dengan harga yang cukup bersaing.

Tak sedikit anggota keluarga yang membawa pulang batik untuk dipakai sendiri maupun dijadikan oleh-oleh.

Yang paling seru tentu saja proses tawar-menawar. Beberapa anggota keluarga bahkan berhasil mendapatkan harga yang jauh lebih murah setelah bernegosiasi dengan para pedagang.

Berbelanja di pasar tradisional seperti ini selalu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern.

Menutup Hari dengan Bakmi Jowo Mas Joyo

Perjalanan dari Solo menuju Yogyakarta memang cukup menguras tenaga. Namun sebelum kembali ke hotel, rombongan masih memiliki satu agenda kuliner yang sayang untuk dilewatkan, yaitu makan malam di Bakmi Jowo Mas Joyo.

Rumah makan ini dikenal sebagai salah satu tempat menikmati bakmi Jawa dengan cita rasa autentik. Begitu pesanan datang, aroma bawang putih, kaldu ayam, dan bumbu tradisional langsung menggugah selera.

Sebagian anggota keluarga memilih bakmi godog yang berkuah hangat, sementara yang lain menikmati bakmi goreng, nasi goreng Jawa, hingga aneka lauk pendamping. Semua dimasak satu per satu menggunakan api besar, sehingga menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri bakmi Jawa tradisional.

Suasana makan malam terasa hangat. Setelah seharian menjelajahi Prambanan dan Solo, kami kembali berkumpul di satu meja, saling berbagi cerita tentang hasil belanja di Pasar Klewer hingga mengulang kembali kisah lucu anggota keluarga yang hampir tertinggal karena tertidur di musala saat singgah di Kopi Bukan Luwak. Tawa kembali pecah, membuktikan bahwa kejadian kecil sering kali menjadi kenangan yang paling membekas.

Usai makan malam, rombongan kembali menuju hotel. Malam itu tidak ada agenda resmi. Sebagian memilih beristirahat lebih awal, sementara yang lain masih mengobrol santai di lobi hotel sambil menikmati secangkir kopi. Dengan tenaga yang kembali terisi, semua bersiap menyambut hari terakhir sebelum kembali ke Bandung. 

Malam yang Lebih Santai

Setelah kembali ke Yogyakarta, malam kedua sengaja dibuat tanpa agenda khusus.

Ada yang memilih berjalan santai di sekitar hotel, menikmati kopi bersama keluarga, mengobrol hingga larut malam, atau sekadar beristirahat di kamar.

Meskipun sederhana, justru momen tanpa jadwal inilah yang memberi ruang untuk menikmati kebersamaan dengan lebih santai.

Hari Ketiga: Menutup Perjalanan dengan Menjelajahi Pasar Ngasem

Tak terasa, hari terakhir pun tiba. Setelah sarapan dan menyelesaikan proses check-out hotel, kami masih memiliki sedikit waktu sebelum kereta kembali membawa kami pulang ke Bandung.

Kesempatan itu kami manfaatkan untuk mengunjungi Pasar Ngasem, salah satu pasar tradisional yang berada di kawasan wisata Keraton Yogyakarta. Sejak pagi, pasar sudah ramai oleh aktivitas warga dan wisatawan yang berburu berbagai kebutuhan maupun oleh-oleh khas.

Menyusuri lorong-lorong Pasar Ngasem menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern. Beragam jajanan tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, hingga aneka camilan khas Yogyakarta tersusun rapi di lapak para pedagang. Beberapa anggota keluarga memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk membeli oleh-oleh tambahan, sementara yang lain menikmati suasana pasar sambil sesekali mengobrol dengan para pedagang yang ramah.

Bagi kami, Pasar Ngasem bukan sekadar tempat berbelanja. Pasar ini memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta yang sederhana, hangat, dan penuh keramahan. Suasana pagi yang masih teduh membuat kunjungan terasa santai dan menjadi penutup yang manis sebelum meninggalkan Kota Gudeg.

Saatnya Pulang

Menjelang siang, rombongan kembali menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk menaiki kereta menuju Bandung.



Perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang. Sebagian beristirahat, sebagian lagi sibuk melihat kembali foto-foto di ponsel sambil mengenang berbagai momen yang baru saja dilewati.

Dalam waktu tiga hari, kami berhasil menikmati petualangan di lereng Merapi, mencicipi kuliner legendaris, berjalan di Malioboro, mengagumi kemegahan Prambanan, berburu batik di Solo, hingga menikmati hangatnya kebersamaan selama perjalanan.

Yang paling berharga dari semuanya ternyata bukan sekadar daftar destinasi yang berhasil dikunjungi, melainkan waktu berkualitas yang bisa dihabiskan bersama keluarga.

Di tengah kesibukan masing-masing, perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah investasi terbaik. Tawa di dalam kereta, percikan air saat jeep melintasi sungai, semangat berburu oleh-oleh, hingga makan sate bersama di penginapan akan selalu menjadi cerita yang dikenang bertahun-tahun kemudian.

Yogyakarta sekali lagi membuktikan bahwa kota ini bukan hanya menawarkan tempat wisata yang indah, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mampu mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Dan kami yakin, suatu hari nanti, kami akan kembali lagi ke Kota Gudeg dengan cerita-cerita baru yang tak kalah berkesan.


Tips dari Travelopedia.id untuk Liburan Rombongan ke Yogyakarta

  • Berangkat menggunakan kereta api menjadi pilihan yang nyaman untuk rombongan besar karena seluruh peserta bisa menikmati perjalanan bersama.
  • Mulailah itinerary dari kawasan Merapi sebelum masuk ke pusat kota agar waktu perjalanan lebih efisien.
  • Datanglah ke Malioboro pada siang atau sore hari agar memiliki waktu yang cukup untuk berbelanja.
  • Jika memungkinkan, sisihkan satu malam tanpa agenda wisata agar seluruh anggota keluarga bisa menikmati waktu santai bersama.
  • Jangan lupa menyisakan ruang di koper untuk oleh-oleh, karena godaan berbelanja di Malioboro maupun Pasar Klewer hampir mustahil ditolak.

Tuesday, January 12, 2016

Keraton Jogja Gelar Pasukan Bregada


Para pengunjung di sekitar Jalan Malioboro pada hari minggu sore 31 Agustus 2014 tiba-tiba dikagetkan oleh adanya pasukan bregada atau prajurit keraton Daerah Istimewa Yogyakarta. Diawali oleh drumband dan pasukan paskibra tentu menjadi perhatian para wisatawan dan penduduk sekitar.  Kemudian diikuti oleh bregada dari berbagai daerah di propinsi Yogyakarta seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Parangtritis. 

Sungguh saya sangat beruntung bisa menyaksikan pawai yang biasa diadakan pada hari istimewa tersebut. Ternyata pawai ini diadakan untuk memperingati dua tahun Undang Undang Nomor 12 Tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu keunikan dari UU ini adalah pasal 19 yaitu tentang tata cara pengajuan calon gubernur. Pasal 19 (1) DPRD DIY memberitahukan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur serta Kasultanan dan Kadipaten tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur. (2) 




Berdasarkan pemberitahuan dari DPRD DIY sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kasultanan mengajukan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Kadipaten mengajukan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah surat pemberitahuan DPRD DIY diterima. (3) 




Kasultanan dan Kadipaten pada saat mengajukan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur kepada DPRD DIY menyerahkan:a. surat pencalonan untuk calon Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat;b. surat pencalonan untuk calon Wakil Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman;c. surat pernyataan kesediaan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur; dan d. kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). Berikut ini serangkaian foto-foto saat acara kirab bregada hari minggu kemarin. Selain prajurit bregada, ada juga kirab srikandi-srikandi dan punakawan seperti yang terlihat dalam foto-foto berikut ini. 




Saya sudah sekitar 4 kali mengunjungi Yogyakarta dan Malioboro, namun dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, kunjungan kali inilah yang paling memuaskan. Salam,

Friday, September 6, 2013

Mengenang Bencana Merapi di Musium Sisa Hartaku

Letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 menyisakan duka yang mendalam bagi desa-desa yang berada di kaki atau lereng Gunung Merapi. Termasuk Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman yang merupakan kediaman keluarga Mbak Maridjan.

Tiga tahun setelah pasca erupsi, warga mulai bangkit. Perekonomian berputar kembali, baik dari sektor pertanian, peternakan dan pariwisata. Kini berkembang pariwisata yang di sebut "Lava Tour" bagi pengunjung yang ingin melihat sisa-sisa keganasan muntahan awan panas yang mencapai 4.000 derajat celcius itu.

Kini Merapi sudah kembali tidur. Membiarkan manusia kembali menata kehidupannya, dengan senantiasa menjaga lingkungan agar terjadi hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya.

Ada sebuah kutipan perbincangan antara Mbah Maridjan dan Putranya Asihono sebelum terjadi erupsi pada tanggal 26 Oktober 2010. Asihono mengatakan kepada bapaknya bahwa ia pamit untuk turun mengungsi dan mengajak bapak ikut serta. Namun Mbak Maridjan menjawab, "Wis ira susah, aku arep ndedonga bae. Nek aku melu mudhun mengko diguyu pithik. yang artinya, "Sudah, saya tidak usah mengungsi, saya mau berdoa saja, kalau saya ikut mengungsi nanti saya diketawain ayam".

Itulah percakapan terakhir antara Asihono dan bapaknya, sampai jenasahnya ditemukan meninggal dalam keadaan sujud di hadapan Allah SWT. Menurut Mbah Maridjan, Merapi adalah surga perantauan leluhur Mataram yang harus dijaga dan dilestarikan. Itu adalah salah satu tugas yang disanggupi oleh Mbah Maridjan sebagai juru kunci ketika ia diangkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang diemban hingga akhir hayatnya.

***

Rabu 4 September 2013 saya berkesempatan untuk mengunjungi Merapi. Bersama rombongan satu bis, tepat pukul 9.00 pagi kami sudah berada di pintu masuk. Dari menggunakan bis, kami berganti kendaraan dengan mobil berpenggerak 4 roda, karena kondisi medan yang terjal dan berbatu. Adapun persiapan yang harus kami sediakan adalah kacamata dan masker karena disana banyak debu yang bertebaran, kaos lengan panjang karena disana cukup panas, tapi angin dingin cukup menusuk serta tidak lupa menggunakan helm.

Tugu Elang Jawa, Pintu Masuk Merapi dari Tlogo Putri
Mulai menjelajah dengan kendaraan terbuka. Siap tempur!
Mulai memasuki kawasan berdebu. Disinilah gunanya kacamata dan masker
Masih ada bangunan sisa-sisa keganasan erupsi Merapi

Tujuan pertama kami adalah Musium Sisa Hartaku yang berada di Dusun Petung. Dalam bayangan saya adalah sebuah musium yang dibangun permanen untuk mengenang tragedi tiga tahun lalu tersebut. Namun ketika kita sudah sampai disana, musium tersebut adalah sebuah rumah yang juga menjadi salah satu korban keganasan erupsi Merapi. Pemiliknya adalah Mbok Wati, seorang wanita yang sudah renta, namun selamat dari terjangan wedhus gembel.

Musium Sisa Hartaku
Disana diperlihatkan beberapa barang yang masih tersisa, walau sebagian besar sudah dalam kondisi hancur. Ada juga kerangka sapi yang hanya tinggal tengkorak. Bisa dibayangkan jika terjadi kepada manusia. Ada sebuah jam yang mati tepat menunjukkan waktu saat terjadinya erupsi jam 12 :05 hari jumat 5 November 2010.
      

Bukti Jam Erupsi
Selain itu banyak dipajang barang-barang yang sudah setengah hancur, seperti koleksi CD dan kaset, piring, gelas, TV, HABIS SUDAH SEMUA, seperti yang terpampang dalam tulisan yang terpajang di dinding Mbok Wati.

Mbok Wati di rumahnya yang dijadikan musium
Ada satu tulisan atau kalimat di sebuah dinding yang menyitir bait terakhir ramalan Jayabara, membuat trenyuh orang yang membacanya, seperti yang tertulis dibawah ini :

"Sak bejo bejone wong kang lali
isih bejo wong kang eling lan wasphodo"

Se beruntung2nya orang yang lupa, Masih beruntung yang ingat dan waspada
Usai singgah di Musium Sisa Hartaku, perjalanan kami lanjutkan ke Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Tempat ini merupakan salah satu lokasi yang paling parah terkena erupsi . Disini juga kami menemukan bunker yang menjadi tempat perlindungan bagi penduduk saat bencana terjadi. Cukup banyak nyawa yang terselamatkan dengan adanya bunker ini. 

Tampak luar bunker

Suasana didalam bunker
Kaliadem yang menjadi berkah bagi para penambang batu

Perjalanan kami lanjutkan ke Sungai Kaliadem yang dulunya dalam hingga puluhan meter, namun karena tertimbun batuan material vulkanik kini menjadi rata dengan tanah. Namun selalu hikmah dibalik musibah. Tempat ini kini menjadi satu sumber mata pencaharian baru bagi para penambang batu dan pasir.

Selanjutnya kami juga sempat mengunjungi rumah baru bagi para korban yang berasal dari bantuan pemerintah. Rumah ini didesain tahan gempa dan jauh dari lokasi aliran lahar dingin. Petualangan kami diakhiri dengan kegiatan offroad di Kali Kuning yang surut. Para pengemudi memperlihatkan keahliannya yang tidak kalah dengan para offroader profesional.

Perumahan baru bantuan pemerintah
Wisata Offroad di Kali Kuning
Renungan Arti Hidup
Dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri, bekas dan sisa erupsi ini, maka kita harus segera sadar dan ingat sesungguhnya apa yang menjadi arti dari hidup ini, seperti yang tertulis di sebuah bongkahan bangunan di depan musium Sisa Hartaku.

"Dengan Anda Melihat Bekas Sisa Erupsi Merapi, Maka Renungi / Resapi Arti Hidup Ini"

Merapi, 4 September 2013