Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Showing posts with label Sumatera Utara. Show all posts
Showing posts with label Sumatera Utara. Show all posts

Friday, September 22, 2017

Tiga Hari di Medan, Kemana aja?

Mendapat kesempatan kembali ke Kota Medan langsung membuat jadwal ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi sebelumnya. Disela-sela tugas kantor yang cukup padat merayap, disempetin aja untuk mencicipi beberapa kuliner khas Medan.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Kebetulan kita menginap di Hotel yang berada di tengah kota yaitu Grand Aston City Hall. Lokasinya persis di depan Merdeka Walk, sentra kuliner yang selalu ramai menjelang malam. Dan saat siang sesaat setelah tiba kita langsung ke Merdeka Walk sebelum check-in. Setelah putar-putar dan membuat semakin lapar akhirnya kita memutuskan untuk makan di McDonalds. Sebuah pilihan yang absurd. Di Jakarta dan Bogor juga banyak atuh kang, gak bosan? Pengen nyobain Mekdi dengan ayam dari Medan alasannya :)

Setelah check-in dan istirahat sejenak di hotel yang di bagian depannya memang ada bangunan cagar budaya kantor balai kota Medan jaman dulu, malamnya kami memutuskan untuk kulineran di sekitar kota. Pilihannya jatuh ke Mie Ayam Akong & Acim yang terletak di perempatan Jalan Perniagaan Medan Barat.




Walaupun pemiliknya Tionghoa namun makanan ini halal. Mie ayam ini termasuk legendaris karena sudah puluhan tahun berjualan dan anak-anaknya sudah bersekolah di luar negeri (apa hubungannya ya?). Untuk melengkapi kenikmatan kita dapat memesan minuman lokal jenis soda dengan merek Badak buatan Siantar.



Rencananya setelah makan mie ayam kita mau langsung ke hotel untuk mempersiapkan acara besok. Namun karena masih ada sisa-sisa ruang kosong di bagian perut, kita sepakat untuk makan duren di mana lagi kalo bukan di Ucok Durian. Tahun lalu sempat ke tempat ini juga dan sekarang tempatnya semakin ramai. Durennya makin banyak dan harganya juga sudah hampir sama dengan harga Jakarta. Tapi kalo soal rasa, kalo kata orang sunda mah "moal gagal" artinya nggak akan gagal rasanya pasti manis dan mantap. Kita tinggal bilang mau rasa yang manis atau manis-pahit. Kalo manis yang biasa, tapi kalo manis-pahit rasanya agak strong dan cepat naik. Untuk ukutan kecil harganya Rp 50.000 per butir. Malam itu kami hanya menghabiskan 2 butir untuk 4 orang (1 orang nggak makan, 2 orang makan dikit, 1 orang makan banyak)



Hari kedua kami awali dengan sarapan di hotel. Ternyata nemu juga kuliner khas Medan yaitu Lontong Kari Medan berjajar dengan makanan seperti roti, bubur, nasi, kentang yang sebagian resep dari luar negeri. Saya memilih Lontong Kari dengan topping teri kacang, abon sapi dan tauco serta kerupuk khasnya yang berwarna merah. Kalau tidak ada jadwal acara rasanya bakal berlama-lama di resto ini sampai jam 10 saat closing.

Saat siang setelah tugas selesai, selanjutnya kami meneruskan wisata kuliner di kota yang terkenal dengan Bika Ambon-nya itu. Destinasi pertama ada Restoran Tip Top. Restoran ini juga merupakan restoran legendaris yang dibangun sejak tahun 1938. Jadi Tip Top ini pernah disinggahi oleh tentara Belanda, Jepang dan tentara nasional untuk sekedar ngopi-ngopi dan makan es krim.

Rekomendasinya es krim dan kue. Semua bahan yang digunakan masih persis seperti jaman dulu, termasuk membakarnya dengan menggunakan kayu arang (untuk kue ya bukan es krim). Sementara saya pesan kopi susu Sidikalang. Awalnya saat icip-icip terasa pahit arabica-nya. Namun lama-lama menjadi agak manis. Kok unik ya. Lalu diseruput sampai hampir habis terlihat ada cairan putih ternyata susu kental. Ternyata kopinya belum diaduk pembaca.

Sebelum balik ke hotel, lagi-lagi kami mampir dulu ke tempat kuliner yaitu Bolu Meranti dan Risol Gogo. Kedua tempat itu memang gak ada matinya. Saat ke sana antrian cukup padat merayap. Kami hanya pesan untuk diambil besok pagi agar masih terasa fresh.

Setelah leyeh-leyeh dan membuat report, malamnya kami kembali kulineran lagi. Kali ini tempat yang dikunjungi adalah Restoran Garuda. Restoran ini legendaris juga dengan menu khas kepala kakap. Namun malam itu kami hanya pesan ayam pop yang enaknya gak kalah juga. Restoran Garuda ada beberapa cabang di Medan dan ternyata di Jakarta ada cabangnya juga di Jalan Sabang.
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on

Masih belum puas, kami lanjutkan dengan makan kerang di pinggir jalan. Kerangnya ternyata masih fresh banget terbukti masih pada idup. Beberapa teman malah ada yang nambah. Saya sih cukup satu porsi ditutup dengan teh tarik dingin.

Selanjutnya kami kembali ke Ucok Durian lagi. Bukan, bukan untuk makan lagi. Tapi kami pesan untuk dibungkus dan dibawa esok pagi untuk dibawa ke Jakarta. Jadi mereka juga terima take away. Pesan sesuai selera, rata-rata menggunakan wadah ukuran sedang dengan harga berkisar Rp 100.000 - Rp 250.000.- Mereka akan tutup rapat dengan menggunakan lakban dengan sangat rapat, karena takut tercium saat di pesawat. Dan ingat, paket durian ini tidak boleh dibawa ke kabin, harus masuk bagasi. (Terbukti saat kami pulang, di kabin pesawat tercium bau durian, petugas langsung mengendus setiap bungkusan mencurigakan, dan menemukan pancake durian dan terpaksa harus disita). Jadi sepertinya satu lakban bisa dihabiskan hanya 2-3 paket, saking rapetnya. (Saat bongkar oleh-oleh dirumahpun, orang rumah bilang, "ini ngebuka bungkusnya lebih susah dibanding buka durennya langsung.")



Hari terakhir diawali dengan malas-malasan di tempat tidur yang sangat posesif. Angka sudah menunjukkan jam 9 lebih, satu jam lagi breakfast tutup. Buru-buru kami turun makan sambil masih bercelana pendek dan belum mandi. Late check-out jam 1 siang sambil mikir mau ke mana lagi sambil nunggu terbang jam 7 malam nanti. Akhirnya diputuskan makan siang dulu terus mampir ke Istana Maimun. Sebuah Istana peninggalan Kesultanan Deli.

Keunikan dari Istana Maimun yang dibangun pada tahun 1888 ini adalah arsiteknya yang merupakan akulturasi dari budaya Melayu dan Islam, termasuk unsur seni dari negara Italia, India dan Spanyol. Untuk masuk kita dikenakan tiket sebesar Rp.5.000,- kita bisa masuk dan berkeliling seluruh istana. Kita juga ditawarkan untuk menyewa baju adat dan dapat berfoto di mana saja. Awalnya nggak ngeh, kirain yang pake baju adat itu orang-orang yang ditugaskan di sana. Jadi saat ada mbak-mbak yang pake baju adat saya minta dia bergaya di depan salah satu area. Mbaknya hanya senyum-senyum aja. Baru nyadar setelah temannya yang fotoin dia bergaya. Jadi malu sendiri. Untung bukan inang-inang yang aku suruh begaya, bisa dilempar awak ini.
Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. (Sumber info : Wikipedia)
A post shared by Harris Maulana (@harrismaul) on


Setelah puas keliling Istana Maimun, kami memutuskan untuk segera ke Bandara Kuala Namu. Sebenernya sih pengen nyobain naik kereta bandara yang keren itu, tapi karena sudah menyewa mobil untuk tiga hari full service dengan terpaksa ditunda lagi naik keretanya. Semoga suatu saat bisa kembali dan mencoba keretanya.

Tiba di bandara masih 3 jam lagi untuk boarding. Beruntung di bandara ini ada yang namanya Rest Area. Di tempat ini kita bisa tidur-tiduran karena ada kursi yang memanjang berderet bisa untuk rebahan. Jadi kalo mau nginep juga sepertinya bisa, dengan catatan siapa cepat dia dapat. Lalu ada free internet plus komputernya. Kebetulan hari itu ada deadline satu postingan dan masih sempat dibuat di tempat itu. Tapi inget jangan lupa logout ya. Selain itu ada juga colokan listrik untuk nge-charge yang sekarang menjadi kebutuhan pokok para traveler (sandang - pangan - casan).

Dan akhirnya, saat boarding telah tiba. Duduk manis di 45K (window), siap-siap terbang kembali ke Jakarta. Rasa kantuk mendadak hilang. Akhirnya memilih nonton film "The Accountant"nya Ben Affleck yang belum sempet ditonton saat di bioskop. Ternyata seru juga ya. Walau cuaca agak buruk gak keganggu karena anteng nonton film ini. Saat ditawari makan,  akhirnya luluh juga karena laper. Lalu lanjut nonton lagi. Dan ajaibnya film ini selesai saat pas landing di Soekarno Hatta Airport.

Selesai sudah perjalanan kali ini yang lebih banyak wisata kulinernya ya dibanding wisata lainnya. *brb cek bagasi*




  

Monday, January 11, 2016

Mencicipi Durian Ucok



Ucok Durian, kalau belum makan durian ucok, belum sah ke Medan Bung! Demikian tertulis dalam spanduk ketika kami ke singgah di kedai Durian Ucok di Kota Medan. Memang sih penasaran juga jika kita mengunjungi Kota Medan tanpa singgah di kedai durian yang sudah terkenal itu. Seperti penasaran jika kita ke Jogja tanpa mencicipi gudeg, atau ke Palembang tanpa menyantap mpek-mpek. 

Durian Ucok adalah salah satu kedai yang menjual durian di kawasan Jalan Iskandar Muda, Medan. Ada beberapa penjual lainnya, namun yang paling rame ya kedai Ucok ini. Mereka menjual durian khas Sumatera Utara yang dikenal sebagai penghasil durian enak. Ketika akan memesan hanya ada dua pertanyaan dari si abang, "Mau yang manis atau pahit?" Ada dua jenis durian enak yaitu yang rasanya manis legit berwarna kuning mentega. Tapi ada juga yang rasanya manis tapi agak pahit. Saya lebih suka yang agak pahit itu, karena kalau manis sensasinya kurang. Tapi akhirnya kami memilih dua-duanya. 

Untuk harga tentu jauh jika dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa. Dijamin lebih murah karena persediaannya sangat melimpah. Jika harga mahal dan tidak laku maka akan menjadi busuk dan malah menjadi rugi. Namun kini untuk mencegah durian menjadi busuk, banyak dibuat menjadi makan lain yang dikemas menjadi pancake durian. Tinggal disimpan di dalam kulkas maka akan awer cukup lama. Makanan lain adalah lempok durian atau dodol durian. 



    Ucok Durian 

    Alamat: Jalan Iskandar Muda, Sumatera Utara 20154
    Telepon:0819-859-540


Monday, January 12, 2015

SUMATERA UTARA

Friday, February 14, 2014

Mari Menari Tortor


Kolaborasi keindahan alam dan budaya menjadi daya tarik tersendiri sehingga membuat para turis baik dari mancanegara atau domestik tertarik untuk datang ke sebuah destinasi wisata di Indonesia.

Seperti yang saya alami ketika mengunjungi Danau Toba tanggal 7-9 Desember 2013 lalu. Tiga hari perjalanan terasa singkat mengingat banyaknya destinasi yang wajib dikunjungi di wilayah Sumatera Utara ini. Bukan hanya wisata alam dan budaya, tapi juga wisata sejarah dan wisata kuliner khas wajib dicicipi. Ini adalah kunjungan pertama saya ke Danau Toba.

Friday, November 2, 2012

Keceriaan Anak-Anak Desa Bawomataluo



Ditengah menyaksikan atraksi Lompat Batu di Desa Adat Bawomataluo Nias ada anak-anak yang selalu menemani setiap pengunjung. Mereka tidak hanya menawarkan cindera mata, tetapi juga memberikan informasi wisata dengan lugas.


Lewat mereka lah aku tahu mengapa ada atraksi Lompat Batu. Dulu pada saat masih sering terjadi perang antar suku, lompat batu merupakan syarat bagi prajurit desa agar bisa ikut berperang. Dengan kemampuan tersebut mereka diyakini dapat menerobos benteng pertahanan musuh. 

Namun, seiring dengan perkembangan jaman tradisi itu kini berubah menjadi olahraga tradisional yang menarik bagi wisatawan.

Oleh-Oleh dari Pantai Lagundri Sorake Nias, Papan Surfing!



Sejak awal memasuki Pulau Nias kami sudah bertekad akan mencoba belajar surfing di Pantai Lagundri Sorake yang konon menurut para peselancar dari luar negeri merupakan tempat terbaik kedua di dunia setelah 


Namun untuk menuju pantai tersebut tidak semudah yang kami bayangkan. Setelah mendarat di Bandara Binaka di Gunungsitoli kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 (tiga) jam untuk mencapai lokasi. Pantai Lagundri Sorake terletak di Teluk Dalam termasuk Kabupaten Nias Selatan.
Kami tiba di homestay yang lokasinya tepat berada di bibir Pantai Lagundri Sorake pada malam hari karena melakukan kunjungan ke tempat lain terlebih dahulu. Rencananya kami akan belajar surfing esok pagi sambil menyambut matahari terbit. Kami dikenalkan dengan seorang pemuda asli Nias bernama Slamet yang akan mengajarkan kami bermain surfing. Setelah menyepakati harga sewa papan surfing dan biaya training akhirnya kami janjian ketemuan besok jam 06.00 pagi dan langsung memulai latihan surfing di Pantai Lagundri. Pemilihan pantai ini karena ombak di sini relatif lebih rendah dibanding ombak di pantai Sorake yang bisa mencapai 4 sampai 6 meter.

Ingat Brastagi, Ingat Monopoli!



Dalam permainan tersebut kita berlomba-lomba untuk membeli tanah dan membangun hotel di kota ini. Jika ada yang menempatinya tentu saja kita senang karena sewanya paling mahal dan biasanya mereka langsung bangkrut...

Dalam perjalanan ke Kutacane kami melewati kota ini. Kotanya dingin, terkenal sebagai Puncak-nya Kota Medan. Memasuki kota kita disuguhi Tugu Perjuangan untuk memperingati pengorbanan rakyat saat merebut kemerdekaan dulu.