Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Friday, July 10, 2026

Dari Hutan ke Selembar Kain: Pengalaman Wisata Paling Berkesan di Sigi, Sulawesi Tengah

 Kalau selama ini wisata identik dengan pantai atau pegunungan, di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, saya menemukan pengalaman yang benar-benar berbeda. Di sini, perjalanan dimulai dari sebuah hutan adat yang sunyi, lalu berakhir di atas selembar kain batik yang penuh makna.

Batik Valiri bukan sekadar tempat membeli oleh-oleh. Ini adalah destinasi wisata berbasis pengalaman (experiential tourism) yang mengajak pengunjung memahami bagaimana alam, budaya, dan kehidupan masyarakat saling terhubung.

Begitu tiba di Desa Beka, Kecamatan Marawola, suasana langsung terasa berbeda. Hanya sekitar 50 meter dari rumah produksi Batik Valiri, berdiri Hutan Ranjuri, hutan adat seluas sekitar 9 hektare yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Kaili.

Yang menarik, hutan ini bukan hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi. Hutan Ranjuri menjadi sumber air bersih warga, pelindung desa dari banjir dan kekeringan, sekaligus "studio alam" tempat lahirnya berbagai inspirasi motif batik.

Menyusuri Hutan, Mengenal Warna dari Alam

Saat berjalan di dalam hutan, saya baru memahami bahwa warna pada kain batik ternyata tidak selalu berasal dari bahan kimia.

Di Batik Valiri, hampir seluruh pewarna berasal dari dedaunan yang jatuh secara alami.

Beberapa di antaranya:

🌿 Daun Rau menghasilkan warna krem alami.

🍃 Daun Mangga menghadirkan nuansa kuning kehijauan.

🌳 Daun Jati menciptakan warna cokelat kemerahan.

🍂 Daun Ketapang menghasilkan warna gelap hingga hitam.


Yang membuat saya semakin kagum, masyarakat adat tidak pernah menebang pohon hanya untuk membuat pewarna. Mereka hanya mengambil daun-daun yang telah gugur sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

Batik yang Bercerita Tentang Sigi

Bagi saya, bagian paling menarik bukan hanya proses membatiknya, melainkan cerita di balik setiap motif.

Motif Taiganja, misalnya, berasal dari benda sakral masyarakat Kaili yang melambangkan cinta, kesuburan, dan ketulusan hati.


Ada pula motif:

Pohon Rau dari Hutan Ranjuri

Daun Kelor

Senjata tradisional Guma

Jejak-jejak megalitik yang tersebar di Kabupaten Sigi


Setiap kain terasa seperti halaman buku sejarah yang bisa dikenakan.

Mencoba Membatik Sendiri

Yang paling seru tentu ketika wisatawan diberi kesempatan membatik secara langsung.

Mulai dari mencanting, memberi motif, hingga mewarnai menggunakan pewarna alami.

Ternyata prosesnya jauh lebih rumit dibanding yang saya bayangkan.




Untuk menghasilkan warna alami yang pekat, daun harus direbus hingga empat jam, kemudian kain dicelup berulang kali, bahkan bisa mencapai 20 kali pencelupan.

Tidak heran setiap lembar kain memiliki karakter warna yang unik dan tidak pernah benar-benar sama.


Wisata yang Membawa Pulang Cerita

Batik Valiri kini mengembangkan paket ekowisata yang menggabungkan:

✅ Trek singkat ke Hutan Ranjuri

✅ Mengenal budaya Kaili

✅ Workshop membatik

✅ Edukasi pewarna alami

✅ Belanja batik langsung dari pengrajinnya


Konsep seperti ini membuat wisata terasa lebih bermakna. Kita tidak hanya membeli kain batik, tetapi juga memahami perjalanan panjang di balik setiap helainya.


Kenapa Wajib Masuk Bucket List?

Karena di Sigi, wisata bukan sekadar datang untuk berfoto.

Di sini kita belajar bahwa menjaga hutan bisa menghidupi masyarakat, budaya bisa menjadi sumber ekonomi, dan selembar batik mampu menyimpan cerita tentang alam yang terus dijaga.

Batik Valiri membuktikan bahwa oleh-oleh terbaik bukan hanya benda yang dibawa pulang, tetapi juga pengalaman dan pemahaman baru tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam.



Kalau suatu hari berkunjung ke Sulawesi Tengah, jangan hanya mampir ke Palu. Luangkan waktu ke Desa Beka, Kabupaten Sigi. Siapa tahu, selembar batik yang dibawa pulang justru menjadi kenangan paling berharga dari perjalanan tersebut

Saturday, February 18, 2017

The Best of Flores by Barry Kusuma

"Indonesia itu ibarat kotak coklat yang isinya berbagai macam bentuk dan rasa, walaupun berbeda beda setiap destinasi di Indonesia punya kelebihan masing masing dan semuanya indah." Barry Kusuma

Flores adalah destinasi favorite saya, karena Flores punya satu paket lengkap keindahan alam maupun kekayaan budayanya yang sangat kental dan masih terjaga sampai saat ini. Buat kamu pencinta laut, kawasan Taman Nasional Komodo inilah gudangnya pantai pantai cantik dan undwerwaternya juara. Kalau kamu suka budaya, saya sarankan untuk landtrip dari Labuan Bajo sampai Larantuka dijamin bakal banyak nemuin budaya masyarakat Manggarai yang masih terjaga sampai saat ini.



Baca Selengkapnya

Tuesday, January 12, 2016

Keraton Jogja Gelar Pasukan Bregada


Para pengunjung di sekitar Jalan Malioboro pada hari minggu sore 31 Agustus 2014 tiba-tiba dikagetkan oleh adanya pasukan bregada atau prajurit keraton Daerah Istimewa Yogyakarta. Diawali oleh drumband dan pasukan paskibra tentu menjadi perhatian para wisatawan dan penduduk sekitar.  Kemudian diikuti oleh bregada dari berbagai daerah di propinsi Yogyakarta seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Parangtritis. 

Sungguh saya sangat beruntung bisa menyaksikan pawai yang biasa diadakan pada hari istimewa tersebut. Ternyata pawai ini diadakan untuk memperingati dua tahun Undang Undang Nomor 12 Tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu keunikan dari UU ini adalah pasal 19 yaitu tentang tata cara pengajuan calon gubernur. Pasal 19 (1) DPRD DIY memberitahukan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur serta Kasultanan dan Kadipaten tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur. (2) 




Berdasarkan pemberitahuan dari DPRD DIY sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kasultanan mengajukan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Kadipaten mengajukan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah surat pemberitahuan DPRD DIY diterima. (3) 




Kasultanan dan Kadipaten pada saat mengajukan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur kepada DPRD DIY menyerahkan:a. surat pencalonan untuk calon Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat;b. surat pencalonan untuk calon Wakil Gubernur yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman;c. surat pernyataan kesediaan Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta sebagai calon Gubernur dan Adipati Paku Alam yang bertakhta sebagai calon Wakil Gubernur; dan d. kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). Berikut ini serangkaian foto-foto saat acara kirab bregada hari minggu kemarin. Selain prajurit bregada, ada juga kirab srikandi-srikandi dan punakawan seperti yang terlihat dalam foto-foto berikut ini. 




Saya sudah sekitar 4 kali mengunjungi Yogyakarta dan Malioboro, namun dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, kunjungan kali inilah yang paling memuaskan. Salam,

Monday, January 11, 2016

Menyusuri Jejak Sejarah Bogor di Kampung Budaya Sindangbarang



Kampong tertua di wilayah Bogor adalah Kampung Sindangbarang yang saat ini berada di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Hal tersebut tertulis dalam naskah Pantun Bogor dan Babad Pajajaran. Lokasinya berada di daerah Ciomas, kurang lebih 5 km dari pusat kota Bogor. Buat para wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor bisa dijadikan sebagai wisata alternative atau wisata budaya dan sejarah. Jadi bukan hanya sekitar Kebun Raya dan Istana Bogor saja yang buat yang sedang berkunjung, tempat ini juga bisa menjadi tujuan wisata di Kota Bogor.

Sindangbarang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 12. Tempat ini merupakan tempat tempaan para ksatria kerajaan Pajajaran agar menjadi prajurit yang tangguh. Banyak peninggalan Kerajaan Pajajaran yang dapat dilihat di sekitar kawasan ini seperti adanya bukit-bukit berundak. Selain itu ada juga satu budaya yang hingga saat ini masih dipertahankan yaitu upacara seren taun yang diadakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang diberikan oleh yang maha kuasa untuk tahun ini dan berharap hasil panen tahun depan lebih baik lagi. Upacara seren tahun yang diadakan setiap awal tahun selalu dihadiri oleh banyak pengunjung, bahkan bisa mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai kota bahkan ada yang datang dari luar negeri.

Saat ini rumah adat di Kampung Sindangbarang adalah hasil revitalisasi dari bangunan sebelumnya. Bangunan-bangunan tersebut dipugar kembali namun masih memperihatkan wujud aslinya. Dengan demikian anak-anak sekarang masih dapat mengetahui budaya dari jaman dahulu tersebut. Kita juga bisa menginap di kampung Sindangbarang ini dengan suasana pedesaan jaman dulu. Untuk memasak masih menggunakan kompor hawu yang menggunakan ranting kayu sebagai bahan bakarnya, melihat kehidupan petani sedang bercocok tanam dan melihat anak-anak sedang belajar menari. Untuk penerangan masih menggunakan lampu cempor, lampu yang menggunakan sumbu dengan minyak tanah.

Jika malam tiba karena lokasi ini berada di atas bukit, lampu-lampu terlihat begitu indah di sekitar kota Bogor. Jika cuaca sedang cerah, kota Jakarta pun akan terlihat dengan jelas termasuk gedung-gedung tingginya. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri. Lebih indah lagi jika kita menginap saat malam tahun baru. Tepat jam 12 malam ratusan bahkan ribuan kembang api terlihat dengan indah dari tempat ini. Kita tidak perlu menyalakan kembang api, dengan melihat saja sudah sangat memuaskan.