"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".
Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.
Gunung Sumbing adalah gunung api dengan tinggi 3.371 Mdpl, merupakan gunung tertinggi ke tiga di pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Gunung ini memiliki 2 puncak yaitu Puncak Buntu (3362 Mdpl), dan Puncak Sejati (3371 Mdpl). Dari puncaknya bisa melihat hampir seluruh gunung di Jawa Tengah mulai dari gunung Sindoro, Slamet, Merapi, Merbabu, Prau, Lawu, Ungaran, Telomoyo hingga Andong. Gunung Sumbing terletak di tiga kabupaten Jawa Tengah yaitu kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo, bersandingan dengan Gunung Sindoro karena letaknya yang berdekatan dan sering disebut dengan gunung kembar. Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncak Gunung Sumbing, yaitu Jalur Cepit Parakan, Jalur Bowongso, Jalur Kaliangkrik, Jalur Banaran, dan Jalur via Garung. Read More
Jika berkunjung ke Kota Malang, sempatkan untuk singgah di Hutan kota Malabar, yang terletak di wilayah Kelurahan Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen. Dijamin betah deh berlama-lama di hutan kota yang memiliki luas 16.178 m2 itu.
Saat memasuki gerbang utama kita akan menemukan tulisan Otsuka di bagian depannya. Otsuka ini adalah perusahaan yang ikut memelihara dan merawat keberadaan Hutan Kota ini. Perusahaan yang memproduksi Pocari Sweat itu turut peduli dengan hutan yang juga berfungi sebagai resapan air itu.
Pada awalnya yaitu pada zaman Belanda adalah lahan kosong yang dimanfaatkan tempat bermain anak-anak dari kampung sekitar. Kemudian karena lokasinya berada di dataran rendah kemudian difungsikan sebagai sebagai resapan air. Saat kita masuk ke bagian dalamnya kita akan menemukan kolam yang disebut ”Bozem” yang berfungsi sebagai tampungan air dari wilayah sekitar.
Hampir semua lokasi ditumbuhi oleh pohon dan tanaman hutan, dan setiap pohon ada papan nama yang menjelaskan nama pohon termasuk bahasa latinnya. Penamaan dengan papan nama ini juga bagian dari bantuan dari Otsuka. Pada sisi timur, terdapat tanaman Cemara Angin yang apabila angin bertiup akan menimbulkan bunyi "desis", jadi jangan kaget saat duduk-duduk di sini tiba-tiba ada yang berbisik, sis,sis... itu hanya suara angin yang menerpa dedaunan. Sedangkan pada sisi barat terdapat satu jenis pohon Soga yang sampai detik ini masih tegak berdiri di area plasa l, selebihnya tanaman perdu dan hamparan rumput yang cukup instagramable untuk foto-foto.
Awalnya nama Hutan Kota Malabar adalah "Kebon Rodjo" atau ”Bon Rodjo". Hal tersebut dikarenakan sebagai tempat bermain bola dan lempar lembing oleh anak-anak di sekitar lokasi (apa hubungannya coba?). Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1999/2000, Pemerintah Kota Malang mulai membenahi lokasi ini dengan menambah pohon penghijauan sebanyak kurang lebih 500 bibit, terdiri antara lain pohon Bungur, Glodokan Lokal, Glodokan Tiang, Sono Kembang, Sengon Butho, dan Beringin.
Pada tahun 2013 Pemerintah Kota Malang mengukuhkan lokasi ini sebagai HUTAN KOTA MALABAR, sesuai nama lokasinya yaitu di Jalan Malabar, dengan Surat Keputusan Walikota Malang No. 220/2013. Tahun demi tahun penghijauan terus diupayakan dengan tujuan menambah rindang Ruang Terbuka Hijau, Fungsinya menjadi konservasi air, resapan air dan paru-paru kota. Selain itu juga menjadi sebagai penyeimbang lingkungan perkotaan, sekaligus sebagai tempat rekreasi yang menyegarkan.
Hingga saat ini usaha penanaman pohon terus dilakukan baik oleh Pemerintah Kota Malang maupun peran serta masyarakat, Perguruan Tinggi dan swasta seperti perusahaan Otsuka tadi. Data terakhir jumlah pohon berkisar 1500 pohon yang tersebar merata di seluruh area. Cuma satu yang kurang yaitu tidak ada bunga-bunga yang berwarna warni di tempat ini. Mungkin jika ditanamkan akan menambah kecantikan hutan ini.
Hari ke tiga petualangan #Terios7Wonders akan mengunjungi Pulau Kaget yang lokasinya tidak jauh dari Kota Banjarmasin tepatnya berada di Desa Aluh Aluh, Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjarmasin. Kurang lebih satu jam kita akan sampai di Dermaga Aluh Aluh yang akan mengantar ke Pulau Kaget, sebuah pulau yang berada di tengah Sungai Barito. Kurang lebih setengah jam kita akan sampai di pulau yang hanya dihuni oleh Bekantan, monyet berhidung panjang khas Kalimantan.
Menuju Pulau Kaget
Awalnya kami hanya memantau dari perahu untuk melihat Bekantan. Namun setelah diamati beberapa saat masih belum terlihat. Hanya ada monyet-monyet kecil yang sedang bermain-main di sekitar pantai. Untuk menghilangkan rasa penasaran akhirnya kami mendaratkan perahu di sekitar pulau, namun karena tidak ada dermaga akhirnya kami berhenti di tepi pulau dan memasuki bagian dalam pulau dengan melewati rata-rata.
Suasana Pulau Kaget yang dikelilingi oleh rawa-rawa
Perlu perjuangan ekstra hati-hati karena rawa tersebut sangat labil dan beberapa kali kaki saya amblas hingga ke betis. Lewat perjuangan keras dan tanpa lelah akhirnya kami sampai juga di Pulau Kaget. Setelah cukup sabar mengamati terlihat dari jauh dan harus menggunakan lensa tele akhirnya terlihat penampakan dari Bekantan ini. Bulunya berwarna coklat agak kemerahan, hidungnya panjang mengingatkan saya pada Rastatopaulus, seorang penjahat dalam cerita Tintin. Bekantan juga merupakan ikon dari Kalimantan Selatan sebagai spesies khas yang hanya ditemukan di kawasan kalimantan. Ikon Bekantan juga digunakan oleh tempat wisata Dunia Fantasi Ancol sebagai maskot.
Setelah berjuang melewati rawa-rawa, akhirnya sampai juga di Pulau Kaget
Pulau Kaget ini hanya dihuni oleh Bekantan dan monyet-monyet kecil lainnya. Tidak ada penghuni manusia yang menempati pulau ini. Sebagian dari pulau ini sudah dijadikan cagar alam untuk melindungi keberadaan Bekantan ini. Namun sangat disayangkan pada beberapa bagian tempat di Pulau Kaget sudah ada budidaya tamanan berupa sawah yang dikembangkan oleh penduduk di sekitar pulau. Keberadaan sawah ini tentu mengganggu habitat dari Bekantan. Semoga sawah-sawah tersebut segera dialihfungsikan kembali menjadi hutan habitat Bekantan.
Bekantan
Seekor bekantan tertangkap kamera sedang meloncat di pohon
Setelah selesai mengunjungi Pulau Kaget, perjalanan dilanjutkan kembali dengan tujuan Amuntai dengan melewati Banjarbaru, Rantau, Kandangan dan akhirnya sampai di Amuntai. Kami langsung menuju objek wisata Goa Berangan di Desa Malutu untuk melihat anggrek liar yang hidup di hutan. Sayang sekali ketika kami datang hari sudah mulai gelap sehingga cukup sulit untuk melihat keberadaan anggrek liar tersebut.
Perjalanan Terios melewati berbagai medan jalan, termasuk jembatan kayu di kawasan Amuntai
Namun kekecewaan tersebut dapat terobati ketika kami mengunjungi salah seorang yang melakukan budidaya anggrek tersebut. Namanya adalah Dedi, seorang penduduk Desa Malutu yang sudah 6 tahun menekuni dan mengoleksi berbagai jenis anggrek karena hobi. Dedi juga melakukan hibrid atau melakukan stek sehingga menghasilkan jenis anggrek baru yang menawan. Beberapa koleksi anggreknya antara lain anggrek agawara yang berwarna merah, anggrek panda, anggrek endemik, anggrek hitam, anggrek bulan dan tentu anggrek liar.
Anggrek Agawara koleksi Dedi hasil budidaya
Dedi memberikan beberapa tips seputar pemeliharaan anggrek tersebut. Sebagai tanaman yang tidak menggunakan media tanah, memelihara anggrek cukup mudah asal telaten menghilangkan hama seperti tungau, tawon, kutu gajah, dan jamur. Dedi cukup rajin memberikan vitamin B untuk memelihara kesehatan dari para anggrek tersebut. Setelah puas melihat koleksi budidaya anggrek milik Dedi, tim menuju tempat penginapan untuk beristirahat, namun sebelumnya menyantap hidangan malam terlebih dahulu untuk mengisi stamina yang terkuras. Rencananya esok pagi harus segera keluar hotel untuk melihat kerbau rawa.
Setelah sarapan pagi, kami langsung berangkat menuju habitat orangutan yang berada di Taman Nasional Sebangau. Dengan diantar oleh volunter dari WWF dan petugas ranger dari Taman Nasional akhirnya kami menemukan tempat dimana orangutan tinggal.
Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas. Menurut penelitian yang sudah dilakukan, waktu kami berkunjung bertepatan dengan jadwal makan mereka. Tiga puluh menit kami menunggu dan nampak orangutan dewasa dan anaknya sedang bercengkerama di atas pohon. Walau agak sulit menemukan dengan mata tanpa bantuan apapun, kami dapat melihatnya walau tidak nampak utuh karena terhalang oleh ranting dan dedaunan. Menurut volunteer mereka adalah anak-induk yang bernama Brown dan Julie.
Jalan menuju habitat orangutan
Di sini kita tidak bisa melihat orangutan secara utuh, karena ini bukan kebun binatang atau tempat konservasi. Tempat ini adalah habitat asli orangutan yang masih sangat natural. Jadi kegiatan kunjungan yang kami lakukan tidak hanya semata untuk melihat orangutan secara nyata, tapi lebih luas lagi yaitu untuk mengetahui habitat aslinya, kegiatan rutinnya seperti apa, dan lain-lain seperti yang dijelaskan oleh Pak Andi Liani semalam. Kami juga mendapat penjelasan secara detail dari ranger yang mengantar. Antara lain makanan yang dikonsumsi oleh orangutan selain rayap, mereka juga memakan sejenis buah-buahan liar yaitu buah keripa dan rahanjang.
Dengan sabar menanti kehadiran orangutan
Keistimewaan dari orangutan adalah mereka itu merupakan individu yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Tidak ada jenis kera seperti orangutan tinggal di belahan dunia manapun. Itulah mengapa kita harus ikut serta aktif dalam melestarikan habitat mereka yaitu hutan. Jika sampai punah, tentu Indonesia akan disalahkan oleh dunia karena tidak mampu menjaga keberlangsungan hidup mereka. Ditengah ramainya pemberitaan tentang kebakaran hutan di Kalimantan, menurut penjelasan dari ranger bahwa di Taman Nasional Sebangau ini tidak ada lahan atau hutan yang dibakar untuk membuka lahan kelapa sawit. Selain itu juga sejak tahun 2005 sudah tidak ada lagi illegal logging. Jadi kawasan Taman Nasional Sebangau cukup aman.
Orangutan dan anaknya sedang bergelantungan di atas pohon (Foto : Barry Kusuma)
Karena itu kami sangat memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para pengelola yang selalu siap jika dibutuhkan baik dari pihak Taman Nasional atau pun volunter dari WWF. Hampir setiap hari mereka berjalan berjam-jam hanya untuk melihat aktifitas rutin yang dilakukan oleh orangutan tanpa mengenal lelah.
Setela h puas melihat akitifitas dan kebiasaan dari orangutan, akhirnya kami kembali ke Visit Center untuk siap-siap menjalankan perjalanan berikutnya.
Namun saat dalam perjalanan kami menemukan sebuah sungai yang cukup unik karena airnya berwarna merah. Dijelaskan bahwa air tersebut banyak mengandung kadar asam sehingga warna airnya menjadi agak kemerahan seperti air teh. Hal ini disebabkan karena sungai tersebut tidak mengalir secara normal karena air sungai surut akibat kemarau panjang , banyak kayu-kayu dan daun turut terendap dalam sungai tersebut sehingga airnya berubah warna menjadi kemerahan. Penduduk setempat sudah terbiasa dengan kualitas seperti ini jadi tidak perlu dipermasalahkan, bahkan mereka selalu mengkonsumsi air berwarna merah tersebut.
Namun akibat tingginya kadar asam akan merusak gigi karena mengandung zat asam tinggi yang menyebabkan gigi menjadi keropos dan rusak.
Sungai yang berwarna merah di depan Visit Center
Dari Sebangau perjalanan kami lanjutkan menuju Banjarmasin dengan melewati jalur utama trans Kalimantan dengan melalui wilayah Katingan - Palangkaraya dan Kuala Kapuas. Total jarak kurang lebih 315 km dengan kondisi jalan mulus namun agak bergelombang di beberapa tempat karena lahan yang dilalui mengandung gambut yang dikenal material yang kurang stabil. Namun dengan menggunakan kendaraan Daihatsu Terios kondisi didalam kabin masih terasa nyaman. Tepat jam 21.00 kami tiba di Banjarmasin. Sebelum check in di hotel kami sempatkan untuk menikmati salah satu kuliner khas di kota ini yaitu Lontong Orari.
Lontong Orari, kuliner khas Banjarmasin