Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Thursday, May 29, 2014

Tugu Kilometer Nol : Dari Sini Indonesia Di Mulai

Untuk mencapai tugu ini diperlukan 40 menit dari Pelabuhan Sabang, Pulau Weh dengan jarak 32 km. Melewati jalan yang berliku, naik dan turun bukit. Perlu ekstra hati-hati 8 km terakhir karena jalannya sempit hanya selebar 5 meter. Transportasi dapat menggunakan kendaraan umum dengan tarif Rp 50.000,- per orang atau sewa kendaraan Rp 350.000 per hari.


Monday, May 19, 2014

Terdampar di Pulau Biak


Tuntutan pekerjaan yang membawaku terdampar sampai ke Pulau Biak. Beberapa bulan harus tinggal di sebuah pulau yang terletak di Samudera Pacific. 

Pulau Biak merupakan sebuah pulau karang yang berada di Papua. Pulau ini terpisah dari pulau Papua yang besar. Letaknya berada di Teluk Cendrawasih. Kalau kita naik pesawat dan akan turun di Bandara Frans Kaisepo Biak, rasanya seperti mau mendarat di Kapal Induk, karena terlihat kecil sekali.

Disaat waktu senggang, dengan ditemani teman baru dari sini, kumanfaatkan untuk menjelajahi pulau yang ternyata menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa, baik wisata alam, wisata budaya ataupun wisata sejarah. 

Pesona Pulau Biak sangat indah, terutama pantai-pantainya yang masih bersih dan jernih seperti Pantai Barito, Parai, dan Bosnik serta memiliki terumbu karang yang indah di Kepulauan Padaido. Pernah suatu hari jalan-jalan ke Biak Utara. Disana ada satu pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Ombaknya besar. Namun tempatnya sepi karena beberapa waktu lalu kawasan ini tersapu oleh tsunami. Jadi benar-benar serasa terdampar di sebuah pulau asing.

Dan yang paling seru adalah kegiatan mancing yang dilakukan malam hari. Setelah mendapat ikan yang besar-besar seperti ikan ekor kuning, ikan kakap merah, dll, ikan tersebut langsung dibakar. Jadi rasanya masih segar. Adapun nasinya ditanak dengan menggunakan buah kelapa. Jadi buah kelapa dikupas bagian atasnya kemudian masukkan beras sepertiganya. Kemudian dimasak diatas bara api. Setengah jam kemudian nasi sudah masak. Rasanya jangan ditanya karena sudah tercampur dengan air kelapa dan gurihnya daging kelapa. Ditambah ikan bakar segar dengan sambal dabu-dabu. Bisa nambah berkali-kali. Lain waktu menunya diganti bukan dengan ikan, tapi lobster! Wah pokoknya Benar-benar serasa terdampar di....surga.  

Selain itu terdapat peninggalan-peninggalan dari sisa-sisa Perang Dunia II masih terasa, seperti Goa Jepang dan Monumen PD II di Parai. Khusus untuk monumen ini, dibuat oleh pemerintah Jepang untuk mengenang tentara-tentara Jepang yang gugur pada saat perang pacific melawan sekutu. Setiap tahun, banyak turis asal Jepang yang merupakan keluarga dan kerabat yang gugur datang untuk mengenang dan melakukan upacara di tempat ini.

Banyak sekali kawasan-kawasan wisata yang sangat menarik. Pada saat penerbangan Jakarta - Biak - Honolulu - Los Angeles masih ada, perkembangan ekonomi di Biak cukup baik, namun seiring dengan ditutupnya jalur penerbangan ini, maka seakan-akan menutup roda perekonomian di kota ini. Termasuk diantaranya bangkrutnya Hotel Biak Marauw (Bintang 4) yang merupakan kebanggaan warga Biak.

Satu yang tidak bisa dilupakan, penduduk asli Biak, sangat ramah terhadap pendatang atau turis yang datang kesana. Mereka sangat antusias bila kita menanyakan sesuatu tentang pulau ini.

Waktu bergulir begitu cepat. 3 bulan "terdampar" berlalu tanpa terasa. Rasanya belum puas menjelajahi pulau kecil ini. Tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak tahu kapan akan kembali kesana, namun seorang teman mengatakan Biak itu singkatan dari Bila Ingat Akan Kembali!

Saturday, February 15, 2014

Sawarna, Surga Tersembunyi di Ujung Banten

Tepat jam 08:30 tim berangkat menuju destinasi pertama yaitu Desa Sawarna yang berada di wilayah Bayah, Banten. Untuk menghemat waktu, kami tidak melalui jalur Ciawi yang sering macet, namun kami memotong jalan via Jalan Cipaku Bogor hingga tembus di daerah Cihideung, sesudah Lido. Memang sih jalannya jadi sedikit curam dan berliku, namun Terios TX yang kami gunakan dapat melibas medan dengan mudah. Dari Cihideung kemudian menggunakan jalan alternatif lagi kemudian muncul di Parungkuda. Dari situ kami juga menggunakan jalur alternatif lagi melalui Cikidang yang melewati Sungai Citarik yang terkenal dengan arung jeram-nya. Kurang lebih satu jam melewati kawasan perkebunan dan hutan kami sudah tiba di Palabuhanratu tepat jam 12:00 sesuai dengan rencana. Jadi pas banget dengan waktunya makan siang yang kali ini diadakan di sebuah rumah makan tepat berada di tepi pantai.


Di daerah Cikidang menjelang Palabuhanratu
Di daerah Cikidang menjelang Palabuhanratu

Malam Sejuta Bintang di Ranu Pani

Hari ini akan mengunjungi Ranu Pani, sebuah danau (ranu) seluas 4 hektar tempat yang berada di kaki Gunung Semeru yang juga merupakan salah satu tempat tinggal suku Tengger. Sebelumnya kami mengunjungi tuan rumah Daihatsu Malang dan mendapat sambutan yang cukup meriah. Menjelang siang kami berangkat melalui daerah Kabupaten Lumajang. Walau jaraknya cukup dekat, berdasarkan data GPS adalah sekitar 51 km, namun untuk menuju kesana ternyata harus melalui jalan yang melingkar dan berliku. Ditambah dengan kondisi jaln yang berbatu dan rusak.

Saat perjalanan, kami cukup senang ketika melihat penampakan Gunung Semeru dari kejauhan. Namun keberadaan Gunung tersebut kadang ada, kadang menghilang. Kadang berada di kiri jalan, kadang ada di kanan jalan. Hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang berliku-liku (jangan berpikiran mistis dulu :))

Nampak Gunung Semeru dari kejauhan
Nampak Gunung Semeru dari kejauhan


Friday, February 14, 2014

Eksplorasi Taman Nasional Baluran



Pagi hari disibukkan dengan orang-orang yang akan mengejar sunrise. Mengingat momen tersebut sangat spesial, segera saya bangun dari tempat tidur, mengambil kamera dan ikut berburu sunrise. Sampai lupa mandi, bahkan sekedar ganti baju sekalipun. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi, tapi langit sudah terang benderang seperti jam 6 pagi. Memang sih di Kawasan Baluran ini sudah mendekati daerah Waktu Indonesia Tengah jadi wajar jika waktu pagi nya lebih terang.


Matahari sudah menampakkan sinarnya. Bentuknya yang berwarna jingga memberikan efek indah yang membentuk siluet dari pohon-pohon yang berada di sekitar Taman Nasional Baluran. Mata langsung disuguhkan pemandangan alam sabana yang luas seperti padang-padang di Afrika yang sering saya lihat di National Geographic.

Setelah selesai hunting foto sunrise, dengan menggunakan Terios, kami kembali menjelajahi dan mengeksplorasi keindahan alam Taman Nasional Baluran yang memiliki luas 25.000 Hektar. Sejauh mata memang terhampar dataran vegetasi sabana yang diselingi dengan pohon-pohon khas daerah kering. Sesekali kami harus mengendap-ngendap karena melihat adanya segerombolan kijang yang sedang mencari makan. Jika mendengar ada yang datang mereka langsung lari ke bagian hutan.

Ada pemandangan unik saat kami kembali ke wisma untuk sarapan pagi. Di depan wisma hadir beberapa monyet rambut mohawk yang siap menyantap makanan yang kita beri. Awalnya cuma satu dua ekor. Tapi lama-lama menjadi banyak. Seperti serbuan dari Planet of The Apes. Beberapa dari mereka bahkan berani masuk wisma jika pintu terbuka. Saya memergokinya sekali, tapi ketika melihat manusia mereka langsung kabur. Mungkin dalam pikirannya wah takut ada kingkong :D.
Ada kejadian lucu saat kami semua berkumpul di depan wisma. Saat melempar-lempar makanan, ada sepasang monyet yang memadu kasih, bahkan beradegan tidak senonoh. Kontan kami semua tertawa melihatnya. Huh dasar monyet :)) Satu kejadian lagi yang tidak saya lupakan yaitu ketika saya menyeduh kopi. Saat akan minum, baru ingat kamera tertinggal di dalam wisma. Kopi panas saya tinggal dan saya masuk mengambil kamera. Ketika saya kembali, ternyata kopi saya sudah diambil satu monyet dan sedang diminum, walau terlihat kepanasan, tetep aja tu monyet ngabisin kopi saya. Lagi-lagi saya cuma bisa berucap, Huh dasar monyet! :D
Semakin siang, semakin panas. Matahari memancarkan sinarnya dengan terik, kurang lebih sekitar 35-40 derajat, padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi. Bisa kebayang kan panasnya seperti apa. Kalau sudah begitu kita tinggal masuk ke dalam mobil dan ngadem setel AC cukup 2 bar.


Lagi-lagi kami dikejar oleh jadwal yang padat. Kami harus segere meninggalkan Baluran untuk menuju destinasi berikutnya. Dalam setengah jam kami sudah berangkat menuju pelabuhan Ketapang dan dalam waktu satu jam kita menyebrang sudah sampai di Gilimanuk. Welcome to Bali!

Selamat tinggal Pulau Jawa. Dari ujung barat selama tujuh hari kita sudah jelajahi bersama para sahabat petualang hingga ke ujung timur. Saatnya hopping dari pulau ke pulau. Setibanya di Bali, kami sempatkan istirahat dan makan siang dengan menu khas : Ayam Betutu. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat istirahat di Pulau Dewata ini yaitu Hotel Santika Kuta. Setelah makan malam di depan hotel, kami semua beristirahat kembali untuk menyiapkan tenaga untuk menuju destinasi berikutnya.

Jelajah Wisata Alam dan Budaya Lombok

Kali ini saya akan mengunjungi salah satu tempat wisata budaya di Pulau Lombok yaitu Desa Sade Rembitan (bukan Rambitan) yang berada di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Untuk mencapai desa ini cukup mudah, tidak jauh dari Kota Mataram dan berada di jalan utama menuju Pantai Kuta Lombok.

Mari Menari Tortor


Kolaborasi keindahan alam dan budaya menjadi daya tarik tersendiri sehingga membuat para turis baik dari mancanegara atau domestik tertarik untuk datang ke sebuah destinasi wisata di Indonesia.

Seperti yang saya alami ketika mengunjungi Danau Toba tanggal 7-9 Desember 2013 lalu. Tiga hari perjalanan terasa singkat mengingat banyaknya destinasi yang wajib dikunjungi di wilayah Sumatera Utara ini. Bukan hanya wisata alam dan budaya, tapi juga wisata sejarah dan wisata kuliner khas wajib dicicipi. Ini adalah kunjungan pertama saya ke Danau Toba.

Thursday, February 13, 2014

Aneka Kuliner Nusantara Dalam Sepiring Nasi Campur Spesial Khas Bali

Jika menyebut Pulau Bali, pikiran kita pasti langsung terbayang : pantai, sunset, kuta. Atau bisa juga upacara adat, ngaben, tari-tarian dan sebagainya. Atau suvenir khas yang unik dan kreatif. Untuk keramahtamahan orang Bali sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Sejak mendarat di bandara pasti kita mendapatkan senyum tulus dari mereka. Senyuman khas yang tidak kita temukan di belahan dunia manapun.

Namun kali ini saya akan membahas kuliner khas Bali. Ayo apa saja makanan khas dari Pulau Dewata ini? Jalan-jalan di Kota Denpasar saya malah menemukan restoran yang cukup ramai. Namanya Ikan Bakar Cianjur. Lho kok malah dari kota di Jawa Barat? Lalu saya bergeser ke Kuta, disini banyak ditemukan makanan yang disajikan untuk orang bule. Saya menemukan satu resto yang unik namanya Bubba Gump & Co. Dari namanya mengingatkan pada cerita dan film Forrest Gump. Saya hanya sekedar lewat dan berfoto di bangku yang persis dalam film yang dibintangi Tom Hank tersebut.

Mata saya terbentur pada sebuah resto yang cukup sering didengar. Warung Made. Nah ini rasanya pernah mendengar kelezatan makanan di tempat ini. Tempatnya pun lumayan enak. Cukup cozy dengan bangku dan meja dari kayu dan menikmati pepohonan yang dihiasi lampu-lampu di tengah resto. Lokasinya berada di Jl. Pantai Kuta. Dari Pantai Kuta lewat Hard Rock Hotel Bali tinggal lurus aja. Lokasinya distance walking kok dari seputaran Kuta.

Lokasi Warung Made
Suasananya begitu ramai. Sepertinya tidak ada tempat yang tersisa. Memang setiap hari warung ini selalu ramai. Begitu kata bli tukang parkir yang ada di depan warung tersebut. Untuk mendapatkan tempat seharusnya kami reservasi terlebih dahulu. Terpaksa kami harus menunggu kurang lebih 30 menit untuk mendapatkan tempat yang kami inginkan.
Suasana Warung Made (Foto : www.madeswarung.com)
Akhirnya dapat juga tempat yang kita inginkan. Agak lama karena kita butuh tempat yang cukup luas karena kita datangnya rombongan sebanyak 7 orang menggunakan Daihatsu Xenia. Dan ketika membuka-buka menu mata saya terpaku pada sebuah sajian yang merupakan khas dan unik dari Bali yaitu Nasi Campur. Sudah sering saya merasakan nasi campur ini, namun nasi campur Warung Made ini berbeda, katanya. Itulah mengapa disebut "Nasi Campur Special". Sementara untuk minuman cukup teh tawar. Saya tidak mau merusak kenikmatan makanan dengan minuman manis.

Rasanya lama sekali menunggu hidangan itu datang. Entah karena lapar atau kecapean karena seharian sudah keliling Pulau Bali mulai dari Sanur melihat sunrise, lalu ke Renon di Denpasar, mengunjungi Tanah Lot, lalu kembali lagi ke Pantai Kuta untuk melihat sunset kemudian baru ke tempat ini.

Dan di tengah obrolan akan serunya perjalanan tadi siang, akhirnya satu per satu hidangan yang dipesan datang juga. Termasuk Nasi Campur Special pesanan saya.

Nasi Campur Khas Bali menyajikan makanan berupa nasi plus aneka kuliner dari Nusantara. Ada gudeg kuliner khas Yogjakarta, ada rendang kuliner khas dari Ranah Minang, opor ayam khas lebaran, tempe dan sambal khas kuliner nusantara plus ikan asin dan serundeng yang menjadi toppingnya. Kuliner khas dari Bali sendiri di wakili oleh sate lilit.

Tiap porsi yang disajikan memang sedikit, tapi rasanya luar biasa. Nggak tau karena laper atau laper banget :) Tapi beneran kok rasanya enak banget. Kita tinggal pilih mau yang mana dulu yang akan dihabiskan. Tapi jangan dicampur aduk kayak bubur ya, nanti rasanya nggak karuan kayak nano-nano. Pertama saya ambil sih gudeg. Rasanya manis khas Jogja. Lalu colek sedikit sambal plus nasi. Kombinasi menyicip ikan asin dan tempe goreng tercampur dengan gurih di dalam mulut. Baru setengah perjalanan nasi sudah habis. Sayang ini bukan restoran Padang, kalo nggak sudah bilang "Nambo cie..." Terpaksa menghabiskan setengah hidangan tanpa nasi, sambil berharap beberapa teman wanita yang menawarkan kelebihan nasi. Tapi ternyata sampai menyantap sate lilit sebagai makanan penutup tidak ada yang menawarkan. Ternyata mereka lapar juga :)


Nasi Campur Khas Bali (Foto : www.banyumurti.net)
Setelah menyantap menu ini, saya berani mengatakan ini. Kalau dulu orang ke Bali tidak sah kalo tidak ke Pantai Kuta, sekarang saya berani katakan kalau belum ke Warung Made dan menyantap Nasi Campur Special-nya belum sah ke Pulau Bali. Sungguh rasanya unik dan luar biasa. Tidak saya temukan di resto atau warung manapun.

Dan jika suatu saat kembali ke Bali lagi pasti saya akan mampir ke tempat ini. Rasanya benar-benar Maknyussss!!!

H



Wednesday, November 20, 2013

Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"



Dua kata yang sering terdengar dari mulut para pejalan, backpacker, turis atau traveler. Terlebih ketika Pulau Komodo terpilih menjadi satu dari New 7 Wonders di dunia. Wajar saja karena tempat ini merupakan pelabuhan terakhir menuju pulau yang dihuni oleh "Komodo Dragon". Demikian bule-bule menyebutnya.

Dan kini, tempat itu sudah ada di depan mata. Ya, akhirnya kaki ini bisa menginjakkan kaki di tempat yang paling diidam-idamkan para traveler di indonesia.travel

Labuan Bajo (Foto : Koleksi Pribadi)
Labuan Bajo hanyalah kota kecil yang merupakan ibukota dari Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kota ini menjadi semacam tempat singgah sebelum menuju tujuan akhir Pulau Komodo dan sekitarnya. Menuju Labuan Bajo ada dua cara : melalui udara dan melalui laut. Di Labuan Bajo sudah ada Bandara Komodo yang melayani penerbangan dari Denpasar dan daerah-daerah sekitarnya. Kondisi bandara Komodo saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Dengan fasilitas yang seadanya, tidak heran tax bandara disana hanya sepuluh ribu rupiah! Saat ini sedang dibangun bandara yang lebih representatif, mudah-mudahan tahun 2014 sudah selesai.

Sedangkan melalui jalan laut dari Pulau Sumbawa menuju Pelabuhan Sape dilanjut menggunakan ferry selama kurang lebih 5 jam dan langsung menuju Labuan Bajo. Dan kami datang menggunakan dengan cara yang kedua. Ferry berangkat dari Sape sekitar jam 6 sore dan tengah malam sudah tiba di Labuan Bajo.

Saat tiba kami langsung menginap di sebuah hotel yang berada di tepi pantai. Dan ketika bangun pagi, di balik kaca jendela kamar terhampar pemandangan laut dan pantai yang begitu indahnya. Segera saya ambil kamera untuk mengabadikannya.

Pilih renang di kolam atau pantai? (Foto : Koleksi Pribadi)
"Pasir Bersisik" di tepi Pantai Pede, belakang hotel kami menginap (Foto : Koleksi Pribadi)
Setelah sarapan di tepi pantai, kami langsung check-out menuju pelabuhan. Rencananya kami akan menuju Pulau Komodo dengan menggunakan kapal phinisi dan kami akan menginap di kapal tersebut. Istilahnya adalah Life On Board (LOB). Tentu hal ini akan menjadi pengalaman baru karena selama ini belum pernah melakukan seperti itu.
Kapal Phinisi yang menemani kami selama di perairan Pulau Komodo (Foto : Koleksi Pribadi)
Hari pertama rencananya akan melakukan diving. Alam bawah laut di perairan ini sudah tidak perlu disangsikan lagi keindahannya. Spot pertama kami akan menyelam di sekitar Pulau Bidadari. Patrick, Dive master kami segera memberi instruksi apa yang harus dilakukan saat penyelaman, termasuk resiko arus yang cukup deras.

Saya cukup pede walau agak deg-degan saat akan diving untuk pertamakalinya setelah memiliki lisensi Scuba Divers. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dipelajari beberapa bulan lalu saat belajar. Intinya jangan lupa squeeze (mengeluarkan udara dari telinga), buoyancy (keseimbangan tubuh, jangan sampai mengapung atau tenggelam), masker clearing dan jangan panik. Itu saja.


Siap-siap melakukan penyelaman (Foto : Koleksi Pribadi)
Saya memulai dengan giant stride yaitu teknik dengan melangkahkan kaki dari kapal dan langsung terjun ke laut. Dan byurrr... segera mengempiskan BCD sambil squeeze. Tidak lama saya dan buddy yang seorang DiveMaster sudah berada di dasar laut kedalaman 20 meter. Dua teman lainnya yang ikut fundive Bambang dan Puput segera menyusul. Dihadapan kami terbentang seperti sebuah padang pasir. Kok tidak ada apa-apa pikir saya. Lalu kami mulai bergerak dan mulai menemukan ikan-ikan kecil. Tidak lama kami juga menemukan tumbuh-tumbuhan laut, terumbu karang dan segala jenis ikan yang hidup didalamnya. Sesekali saya membersihkan masker karena mulai berembun. Arus agak deras, kadang saja terpisah cukup jauh dengan buddy. Dan akhirnya buddy saya mengikat tali diantara kami berdua. Jadinya tandem. Dijamin saya nggak akan jauh-jauh dari dirinya.

Salah satu spot diving di Pulau Komodo (Foto : Indonesia.travel)
Persoalan lain muncul ketika persediaan oksigen saya mulai menipis. Padahal diving baru berlangsung sekitar 30 menit. Kok saya boros banget ya? tanya saya dalam hati. Lalu dengan baik hati sang divemaster memberikan regulator octopus (cadangan) kepada (mulut) saya. Tentu tidak saya sia-siakan kesempatan ini agar lebih lama bisa diving didalam laut. Selang 15 menit persediaan oksigen sang divemaster juga sudah mencapai limit 50 bar dan akhirnya dengan kode seperti Like Facebook (jempol ke atas) kami harus segera naik sebelum kehabisan oksigen, tidak lupa melakukan deco stop selama 3 menit di kedalaman 5 meter sebelum naik ke permukaan. Hal ini dilakukan untuk menetralisasi nitrogen dalam tubuh. Cukup kaget ketika melihat darah keluar dari hidung Puput. Namun menurutnya hal tersebut sudah biasa. Sedangkan dari hidung Bambang keluar ingus hehehe.

Total 45 menit kami menyelam dan cukup puas dengan pemandangan dibawah sana. Dan bukan kebetulan ketika tiba di kapal sudah tersaji dengan manis makanan untuk santap siang. Sebuah skenario yang sempurna. Setelah santap siang, giliran discovery diving bagi teman-teman yang belum mempunyai lisensi. Kali ini dilakukan di tepi sebuah pantai. Sementara mereka diving kami leyeh-leyeh di sundeck sambil menunggu sunset ditemani kopi flores racikan sang juru masak dan pisang goreng. Oh rasanya indah sekali, serasa dunia milik kita.

Waktu terus berjalan dan hari mulai gelap. Kembali bel berbunyi dan bersiap untuk makan malam. Mesin kapal sudah dimatikan. Jangkar sudah diturunkan. Waktunya istirahat. Kami berada di tengah laut entah dimana. Ombak-ombak kecil membuat kapal bergoyang dan meninabobokan kami. Sambil menatap bintang  kami semua bercerita tentang pengalaman yang menakjubkan hari ini. Dan keluarlah sebuah cerita.

Leyeh-leyek di atas sundeck, sambil menikmati pemandangan sunset di foto bawah
 (Foto : Koleksi Pribadi)

***
Alkisah beberapa waktu yang lalu hidup di sebuah desa seorang pemuda yang menikahi seorang wanita bernama Putri Naga yang datang dari negeri seberang. Tidak lama setelah menikah sang putri hamil dan beberapa waktu kemudian melahirkan bayi kembar. Namun kedua anak kembar tersebut berbeda, yang satu berwujud manusia, sedangkan kembarannya menyerupai seekor kadal. Karena malu salah satu anak kembarnya berbeda dengan bayi lainnya, maka anak yang menyerupai kadal dibuang ke sebuah pulau.

Waktu terus berjalan hingga anak kembar beranjak besar, sampai suatu hari anak tersebut berburu dan hendak memanah salah satu hewan buruannya berupa seekor komodo. Namun saat hendak memanah sang ibu mencegahnya. "Jangan bunuh dia nak, dia adalah saudara kembarmu!" ujar sang ibu. Sang anak tentu kaget dan menjawab, "Mana mungkin bunda aku memiliki saudara seekor komodo?"

Sang ibu lalu menjelaskan, "Beberapa tahun lalu bunda melahirkan bayi kembar. Dirimu dan komodo itu. Coba lihatlah tangan komodo tersebut dan ada tanda lahir yang sama denganmu!" Dan benar saja ketika diperiksa di kedua tangan mereka terdapat tanda lahir yang sama. Dan akhirnya sang anak tidak jadi membunuh komodo yang ternyata kembarannya tersebut.

Itulah sepenggal kisah tentang Komodo dan Putri Naga yang diceritakan oleh Mustaqim salah seorang ABK dari kapal Playaran. Kebenaran cerita tersebut tidak perlu diperdebatkan, namun cerita tersebut cukup melegenda di kalangan rakyat Flores dan sekitarnya. Kisah tersebut terungkap ketika kita sama-sama akan tidur di atas kapal Playaran. Jadi semacam dongeng sebelum tidur. Dan akhirnya kita semua terlelap.

Saat hari masih gelap terdengar suara mesin dibunyikan. Saya melirik jam dalam kegelapan. Phospor yang tertera di dalam jam sangat membantu untuk melihat dalam gelap. Jam 4 subuh. Tidak lama kapal bergerak pelan. Membelah laut yang masih sunyi. Saya kembali meneruskan tidur karena rasa kantuk yang masih mendera.

Bunyi bel membangunkan saya. Cukup kaget juga karena bel itu kan tandanya untuk makan. Wah ternyata sudah siang. Sudah jam 7 pagi dan waktunya sarapan. "Kita sudah sampai. Itu Pulau Komodo dan itu Pantai Pink." ucap seorang ABK. Campur aduk rasanya ketika bangun sudah berada di depan mata sebuah pulau yang menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Pulau Komodo! Tempat yang sangat sering kita sebut selama beberapa hari terakhir ini. Akhirnya kesampaian juga! ucap saya dalam hati.

Pantai Pink nampak dari kapal Phinisi (Foto : Koleksi Pribadi)
Kami segera menuju dapur dan menyantap sarapan pagi yang sudah dihidangkan oleh sang juru masak. Entah kapan orang ini masaknya, tiba-tiba semua hidangan lengkap tersaji di meja dapur. Ada nasi goreng, aneka buah, roti, kopi dan teh. Kami semua menyantap dengan lahap sambil melihat dari kejauhan sebuah pantai yang pasirnya berwarna merah muda. 

Setelah sarapan - dengan menggunakan perahu kecil - kami semua segera merapat ke Pantai Pink di Pulau Komodo, dan kami semua tidak kuasa untuk mencebutkan diri ke dalam air yang sangat jernih. Seperti air kolam renang yang baru dikuras. Bening. Dan ketika mencelupkan kepala ke dalam air, terhampar sebuah pemandangan dalam laut yang menakjubkan. Tidak perlu diving untuk melihat keindahannya, cukup snorkeling di sekitar Pantai Pink ini. Semua tersaji dengan indah. Indah sekali.

Inilah Pantai Pink, Pulau Komodo. Benar-benar berwarna pink! (Foto : Koleksi Pribadi)
Siapa tahan godaannya? (Foto : Koleksi Pribadi)
Cukup penasaran juga kenapa pantai ini berwarna pink. Saya ambil pasirnya dan ternyata ada butiran-butiran berwarna merah. Ternyata itu adalah pecahan dari karang-karang yang sudah mati dan hancur, lalu terbawa oleh ombak dan menyatu dengan pasir pantai. Beberapa teman sudah beranjak dari dalam laut dan mulai menjelajahi tempat di sekitar pantai. Ada yang sudah naik bukit di bagian kanan. Karena penasaran saya pun keluar dari pantai dan ikut naik ke atas bukit dan sesampainya diatas sama terhampar keindahan yang begitu menakjubkan sepanjang 360 derajat. Saya hanya bisa mengucap syukur.

Pantai Pink dari atas bukit (Foto : Koleksi Pribadi)
Setelah puas menikmati Pantai Pink, perjalanan kami lanjutkan dan ada dua pilihan sulit untuk acara berikutnya. Mau kembali diving di Manta Spot atau trekking ke Pulau Rinca? Benar-benar pilihan yang sulit. Diving dengan pemandangan Manta sejenis ikan Pari yang konon panjangnya bisa mencapai 6 meter sungguh menggoda. Namun trekking di Pulau Rinca dan akan bertemu dengan Komodo tidak kalah menariknya.


Namun akhirnya seluruh awal kapal sepakat untuk melakukan trekking di Pulau Rinca dengan alasan diving dan melihat manta bisa dimana saja dan kapan saja, sementara kesempatan untuk melihat Komodo hanya bisa dilakukan di tempat ini. Sebuah pilihan yang tepat dan masuk akal. Kapal mulai bergerak kembali ke Loh Buaya, salah satu spot masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca.

Saat memasuki kawasan Taman Nasional kami di kawal oleh seorang ranger dan memberikan beberapa informasi dan instuksi jika bertemu dengan komodo. Setelah menbayar retribusi kami mulai trekking keliling taman nasional. Komodo pertama kami temui saat mereka leyeh-leyeh di kolong sebuah rumah yang berfungsi sebagai dapur. Bisa jadi karena mereka mencium aroma makanan di rumah tersebut. Ada tiga ekor komodo yang sedang berteduh di kolong rumah. Beberapa pengunjung yang kebanyakan orang asing sibuk mengabadikan dengan foto dan video.

Pemandangan dari atas bukit Taman Nasional Komodo (Foto : Koleksi Pribadi)
Setelah puas foto-foto perjalanan kami lanjutkan dan kami bertemu dengan Komodo yang ketiga yang berada diantara daun-daun yang sudah menguning. Kelihatannya saru, untung diberitahu sang ranger bahwa itu adalah Komodo. Kami semua mendekatinya dan sudah siap dengan kamera masing-masing. Mungkin karena merasa risih di foto terus Komodo tersebut lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Momen ini justru sangat bagus dan dimanfaatkan untuk memfoto lebih banyak sambil mengikuti kemana Komodo itu pergi. Tapi jadi lucu juga seperti melihat infotainment ketika wartawan mengejar-ngejar artis atau nara sumber :D


Salah satu komodo yang kami temui di sarang komodo (Foto : Koleksi Pribadi)
Sampai akhirnya kami kembali ke tempat saat trekking dimulai. Disini kita bisa beristirahat sambil minum dan membeli souvenir khas. Saya sendiri membeli miniatur Komodo yang terbuat dari kayu. Bentuknya mini sekali karena itu yang paling murah, yang agak besaran harganya sudah ratusan ribu rupiah :D

Setelah puas berkeliling di Taman Nasional dan berhasil menemui beberapa ekor Komodo, kami kembali ke kapal dan sudah tersaji santap siang. Masih ada waktu untuk eksporasi kawasan ini. Mustaqim mengajak kami ke Pulau Kalong. Apa istimewanya? Kita lihat sama-sama jawabnya membuat kami tambah penasaran. Saat tiba di Pulau Kalong sepertinya pulau tersebut biasa-biasa saja. Sama dengan pulau-pulau lainnya. Tapi lama kelamaan banyak kapal lain mulai merapat di dekat pulau tersebut. Matahari mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Tidak berapa lama terjadilah sebuah peristiwa yang begitu menakjubkan. Ribuan bahkan puluhan ribu kalong keluar dari pulau tersebut dan terbang ke arah Labuan Bajo. Sebuah pemandangan yang unik dan baru pertamakali melihat begitu banyak kelelawar melakukan ekspansi secara besar-besaran. Kejadian ini berlangsung sekitar setengah jam dan baru benar-benar selesai ketika hari sudah gelap.

Saat senja, ribuan kelelawang keluar dari Pulau Kalong (Foto : Koleksi Pribadi)
Sungguh suatu pengalaman yang sulit dilupakan ketika mengunjungi tempat-tempat eksotis ini. Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi dalam dua hari terakhir ini benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia. Wonderful Indonesia. Tidak salah tempat ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban baru di dunia.


Saturday, November 9, 2013

Menikmati Bromo dari Sudut Vertikal

Sudah tidak perlu disangsikan lagi keindahan Gunung Bromo, Semeru dan daerah sekitarnya di kawasan pegunungan Tengger. Melihat foto salah satu finalis Djisamsoe Potret Mahakarya yang berjudul "Terpikat Bromo" karya fotografer Budi Sugiharto sungguh membuat takjub dan hanya bisa mengucap syukur atas anugerah Tuhan di tanah Jawa itu.

"Terpikat Bromo" Karya Budi Sugiharto (Sumber foto : www.djisamsoe.com)

Kita sudah sering disuguhkan pemandangan dan gambar-gambar indah gunung dengan ketinggian 2.393 m tersebut. Cobalah googling gambar dengan kata kunci "Bromo" maka tersaji foto Gunung Bromo yang diselimuti oleh awan putih dengan latar belakang Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Atau foto saat matahari terbit yang diambil dari Pananjakan. Sudah banyak, ratusan bahkan ribuan foto bisa kita temukan di dunia maya.

Belum lagi foto-foto di lautan pasir. Bersama kuda-kuda, atau dengan kendaraan tangguh hardtop 4x4. Lebih spesial lagi saat upacara Kasodo, yaitu upacara yang diadakan oleh masyarakat suku Tengger yang diadakan setiap bulan purnama pada bulan ke-10 (Kasodo) penanggalan Jawa. Tentu foto-foto tersebut sangat memikat dan sakral.

Gunung Bromo yang dipercaya oleh masyarakat Tengger sebagai gunung suci, memang membuat setiap orang terpikat. Tersirap oleh daya magisnya yang kuat. Ada satu peristiwa yang saya alami dan sungguh diluar dugaan. Satu momen yang langka dan sulit terulang.

Saat itu saya sedang berada dalam penerbangan sebuah pesawat dari Jakarta menuju Denpasar. Di tengah perjalanan, tiba-tiba pilot memberitahukan kepada penumpang untuk melihat ke sebelah kiri dan menyaksikan pemandangan di bawah. Saya yang berada di kursi dekat jendela spontan menengok ke bagian luar dan subhanallah, dibawah saya terhampar pemandangan Gunung Bromo dengan kawahnya yang terlihat dengan jelas. Ditambah lagi dengan garis cakrawala yang membuat pemandangan semakin menakjubkan.

Segera saya ambil DSLR dan mengabadikan momen langka tersebut. Selama ini saya tidak pernah melihat pemandangan seperti ini, baik di internet maupun di buku-buku. Sungguh momen lima menit itu sungguh membuat takjub. Bromo tidak hanya indah dilihat dari sudut horizontal tapi dari sudut vertikal 180 derajat pun sungguh sedap dipandang mata. Tuhan memang Maha Adil. Bukan hanya manusia yang bisa menikmati keindahan Gunung Bromo, tapi para malaikat pun pasti akan terpikat melihat salah satu Mahakarya Indonesia seperti ini. Entah kapan lagi bisa melihat pemandangan seperti ini, saat itu saya hanya bisa mengucap syukur.

Gunung Bromo dari atas pesawat (Foto : Koleksi Pribadi)

Gunung Bromo dan Batas Cakrawala (Foto : Koleksi Pribadi)