Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Thursday, October 24, 2013

Rumah Gadang, Mahakarya Arsitektur dari Ranah Minang


Istana Basa Pagaruyung, Batu Sangkar

Melihat foto "Rumah Gadang Sumatera Barat" karya Aziz Fauzi Rahmat Amrizal yang menjadi salah satu finalis dari 24 Potret Mahakarya Djisamsoe ini saya jadi teringat saat mengunjungi daerah Ranah Minang tahun 2011 lalu. Bangunan adat yang unik ini memang sungguh indah dan enak dipandang mata dan juga sangat fotogenik untuk diabadikan dalam sebuah foto.

Friday, September 6, 2013

Mengenang Bencana Merapi di Musium Sisa Hartaku

Letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 menyisakan duka yang mendalam bagi desa-desa yang berada di kaki atau lereng Gunung Merapi. Termasuk Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman yang merupakan kediaman keluarga Mbak Maridjan.

Tiga tahun setelah pasca erupsi, warga mulai bangkit. Perekonomian berputar kembali, baik dari sektor pertanian, peternakan dan pariwisata. Kini berkembang pariwisata yang di sebut "Lava Tour" bagi pengunjung yang ingin melihat sisa-sisa keganasan muntahan awan panas yang mencapai 4.000 derajat celcius itu.

Kini Merapi sudah kembali tidur. Membiarkan manusia kembali menata kehidupannya, dengan senantiasa menjaga lingkungan agar terjadi hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya.

Ada sebuah kutipan perbincangan antara Mbah Maridjan dan Putranya Asihono sebelum terjadi erupsi pada tanggal 26 Oktober 2010. Asihono mengatakan kepada bapaknya bahwa ia pamit untuk turun mengungsi dan mengajak bapak ikut serta. Namun Mbak Maridjan menjawab, "Wis ira susah, aku arep ndedonga bae. Nek aku melu mudhun mengko diguyu pithik. yang artinya, "Sudah, saya tidak usah mengungsi, saya mau berdoa saja, kalau saya ikut mengungsi nanti saya diketawain ayam".

Itulah percakapan terakhir antara Asihono dan bapaknya, sampai jenasahnya ditemukan meninggal dalam keadaan sujud di hadapan Allah SWT. Menurut Mbah Maridjan, Merapi adalah surga perantauan leluhur Mataram yang harus dijaga dan dilestarikan. Itu adalah salah satu tugas yang disanggupi oleh Mbah Maridjan sebagai juru kunci ketika ia diangkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang diemban hingga akhir hayatnya.

***

Rabu 4 September 2013 saya berkesempatan untuk mengunjungi Merapi. Bersama rombongan satu bis, tepat pukul 9.00 pagi kami sudah berada di pintu masuk. Dari menggunakan bis, kami berganti kendaraan dengan mobil berpenggerak 4 roda, karena kondisi medan yang terjal dan berbatu. Adapun persiapan yang harus kami sediakan adalah kacamata dan masker karena disana banyak debu yang bertebaran, kaos lengan panjang karena disana cukup panas, tapi angin dingin cukup menusuk serta tidak lupa menggunakan helm.

Tugu Elang Jawa, Pintu Masuk Merapi dari Tlogo Putri
Mulai menjelajah dengan kendaraan terbuka. Siap tempur!
Mulai memasuki kawasan berdebu. Disinilah gunanya kacamata dan masker
Masih ada bangunan sisa-sisa keganasan erupsi Merapi

Tujuan pertama kami adalah Musium Sisa Hartaku yang berada di Dusun Petung. Dalam bayangan saya adalah sebuah musium yang dibangun permanen untuk mengenang tragedi tiga tahun lalu tersebut. Namun ketika kita sudah sampai disana, musium tersebut adalah sebuah rumah yang juga menjadi salah satu korban keganasan erupsi Merapi. Pemiliknya adalah Mbok Wati, seorang wanita yang sudah renta, namun selamat dari terjangan wedhus gembel.

Musium Sisa Hartaku
Disana diperlihatkan beberapa barang yang masih tersisa, walau sebagian besar sudah dalam kondisi hancur. Ada juga kerangka sapi yang hanya tinggal tengkorak. Bisa dibayangkan jika terjadi kepada manusia. Ada sebuah jam yang mati tepat menunjukkan waktu saat terjadinya erupsi jam 12 :05 hari jumat 5 November 2010.
      

Bukti Jam Erupsi
Selain itu banyak dipajang barang-barang yang sudah setengah hancur, seperti koleksi CD dan kaset, piring, gelas, TV, HABIS SUDAH SEMUA, seperti yang terpampang dalam tulisan yang terpajang di dinding Mbok Wati.

Mbok Wati di rumahnya yang dijadikan musium
Ada satu tulisan atau kalimat di sebuah dinding yang menyitir bait terakhir ramalan Jayabara, membuat trenyuh orang yang membacanya, seperti yang tertulis dibawah ini :

"Sak bejo bejone wong kang lali
isih bejo wong kang eling lan wasphodo"

Se beruntung2nya orang yang lupa, Masih beruntung yang ingat dan waspada
Usai singgah di Musium Sisa Hartaku, perjalanan kami lanjutkan ke Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Tempat ini merupakan salah satu lokasi yang paling parah terkena erupsi . Disini juga kami menemukan bunker yang menjadi tempat perlindungan bagi penduduk saat bencana terjadi. Cukup banyak nyawa yang terselamatkan dengan adanya bunker ini. 

Tampak luar bunker

Suasana didalam bunker
Kaliadem yang menjadi berkah bagi para penambang batu

Perjalanan kami lanjutkan ke Sungai Kaliadem yang dulunya dalam hingga puluhan meter, namun karena tertimbun batuan material vulkanik kini menjadi rata dengan tanah. Namun selalu hikmah dibalik musibah. Tempat ini kini menjadi satu sumber mata pencaharian baru bagi para penambang batu dan pasir.

Selanjutnya kami juga sempat mengunjungi rumah baru bagi para korban yang berasal dari bantuan pemerintah. Rumah ini didesain tahan gempa dan jauh dari lokasi aliran lahar dingin. Petualangan kami diakhiri dengan kegiatan offroad di Kali Kuning yang surut. Para pengemudi memperlihatkan keahliannya yang tidak kalah dengan para offroader profesional.

Perumahan baru bantuan pemerintah
Wisata Offroad di Kali Kuning
Renungan Arti Hidup
Dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri, bekas dan sisa erupsi ini, maka kita harus segera sadar dan ingat sesungguhnya apa yang menjadi arti dari hidup ini, seperti yang tertulis di sebuah bongkahan bangunan di depan musium Sisa Hartaku.

"Dengan Anda Melihat Bekas Sisa Erupsi Merapi, Maka Renungi / Resapi Arti Hidup Ini"

Merapi, 4 September 2013






Monday, August 26, 2013

[EnjoyJakarta2] Serunya Menyelam di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kami para finalis lomba blog #EnjoyJakarta yang diadakan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta dan Vivanews berangkat juga ke Pulau Kotok, Kepulauan Seribu untuk melakukan diving bersama Riyanni Djangkaru, seorang pecinta divers yang juga dikenal sebagai host acara Jejak Petualang dan kini lebih fokus mengelola majalah Divemag yang dimilikinya. Kegiatan diving ini juga merupakan salah satu test untuk mendapatkan sertifikat Scuba Diver. Dengan demikian setelah mendapat sertifikat tersebut kita sudah bisa melakukan diving atau menyelam dengan kedalaman maksimal 18 meter, sesuai dengan jenis sertifikat tersebut. Jika ingin lebih dalam lagi tentu harus berlanjut pada kelas Advance Scuba Diver dan Master Scuba Diver.

Seminggu sebelumnya kami diberi pelajaran diving di Global Dive Centre yang berada di Istora Senayan. Global Dive Centre ini sudah mendapat lisensi untuk mengadakan kursus atau pelatihan dari NAUI (National Association Underwater Instructur) sebuah organisasi internasional nirlaba yang menaungi instruktur kegiatan menyelam. Kami beruntung mendapat bimbingan langsung dari Bang John E Sidjabat. Seorang Course Director yang sudah melakukan 5.000+ penyelaman. Mulai dari recreation dive hingga rescue dive. Jika di militer pangkat tertinggi adalah jenderal, maka di dunia diving adalah Course Director.

Kursus NAUI Scuba Diver terdiri dari tiga kali pertemuan di kelas dan dua kali melakukan penyelaman di kolam renang. Materi yang diberikan merupakan standar dari NAUI yang terdiri 9 bab. Mulai dari bab 1 pengenalan apa itu Scuba Diver, Scuba certification, NAUI, dll . Jujur saya baru tau ternyata SCUBA itu sebuah singkatan yaitu Self Contained Underwater Breathing Apparatus yang terjemahan bebasnya adalah "penggunaan alat pernafasan bebas untuk berada di bawah air dalam waktu lama guna penyelaman."

Bab 2 tentang peralatan yang diperlukan untuk diving seperti masker untuk melindungi mata dan hidung, rompi BCD (Buoyancy Control Device) untuk mengontrol naik-turun penyelaman, tabung oksigen, regulator yang menghubungkan tabung oksigen dan BCD, fin dan pemberat. Semuanya dijelaskan secara detail termasuk fungsi-fungsinya oleh BJ, panggilan akrab Bang John E Sidjabat.

Kemudian dilanjutkan ke Bab 3 yang membahas diving skill. Seorang Scuba divers harus bisa melakukan pemasangan alat Scuba sendiri. Mulai dari memasang BCD ke dalam tabung. Kemudian memasang regulator. Mengecek jumlah oksigen yang tersedia, mengecek semua alat berfungsi dengan baik. Selain itu juga ketika di dalam air harus bisa melakukan clearing mask atau membersihkan masker di dalam air jika kacanya dipenuhi oleh fog / kabut. Bahkan jika terlepas harus bisa memasangnya kembali tanpa harus naik ke permukaan. Selain itu harus bisa juga melakukan teknik melepas dan memasang pemberat, membuka dan memasang BCD dan teknik penyelaman darurat, rescue, buddy sistem yaitu menyelam bersama pasangan. Dalam menyelam tidak ada istilah dive alone. Harus berpasangan, agar bisa saling menjaga satu sama lain jika ada masalah. Namun intinya ketika didalam air jika ada sesuatu jangan panik, harus tenang dan nyaman. Jika semua sudah nyaman, pasti akan aman.

Dan bagian yang tidak kalah penting adalah bab 4 yang membahas diving science. Dalam bab ini dijelaskan secara menyeluruh segala resiko yang didapat ketika menyelam. Termasuk resiko tidak melihat matahari esok alias kematian. Namun jika semua dilakukan sesuai dengan instruksi dan tidak melanggarnya, semua itu tidak akan terjadi. Demikian diungkapkan oleh Bang Jhon. Bab lainnya membahas tentang decompression, dive table dan dive computers (bab 5), dive planning dan recording (bab 6), problem solving (bab 7), diving enviroment (bab 8) dan terakhir dive activities (bab 9). Semua dijelaskan secara lengkap oleh Bang Jhon dan timnya. Setelah melakukan teori dilanjutkan dengan melakukan diving di kolam Istora Senayan selama 2 hari dan melakukan semua yang ada dalam teori. Dan setelah semua selesai akhirnya hari ini kita berangkat menuju Pulau Kotok untuk melakukan diving sesungguhnya di dalam laut.

***

Sabtu 23 Agustus 2013 pukul 08.00 pagi kami semua sudah berkumpul di Dermaga 15, Marina Ancol. . Sayang sekali dari 10 finalis, hanya delapan orang yang masih bertahan. dua orang mengundurkan diri. Delapan orang ini terdiri dari blogger dengan berbagai latar belakang yang cukup beragam. Mulai dari Agus yang seorang pekerja kantoran dan seorang freediver yang baru saja pulang dari R4 (Raja Ampat), Adhi seorang PNS, Agung seorang mahasiswa, Bambang seorang freelance dan sudah sering bolak-balik ke R4, Dzulfikar seorang guru, Devi seorang traveler, PNS dan mahasiswi S2, Meilani seorang dosen dan saya sendiri seorang konsultan social media. Semua sudah siap menuju Pulau Kotok untuk melakukan penyelaman, walau ada 1-2 orang yang masih ragu karena tidak bisa berenang dan suka panik. Tapi semuanya bersemangat dan antusias pergi ke pulau. 

Perjalanan Ke Pulau Kotok dimulai. Kami menggunakan speedboat kapasitas 30 orang dan 4 buah mesin berkekuatan 200 PK. Membelah laut teluk Jakarta dan meninggalkan buih-buih ombak di Pantai Marina. Gedung-gedung tinggi di tepi pantai mulai mengecil dan kami sudah memasuki Kepulauan Seribu.

Pulau Kotok adalah satu dari 110 pulau yang ada di Kepulauan Seribu yang terdiri dari 11 pulau berpenghuni, 9 pulau wisata dan sisanya pulau pribadi dan pulau kosong. Saya sendiri sudah mengunjungi beberapa pulau antara lain Pulau Harapan, Pulau Perak, Pulau Bulat, Pulau Pari, Pulau Lancang, Pulau Putri, Pulau Pramuka, Pulau Nusa Keramba. Dan Pulau Kotok adalah pulau ke-9 yang saya kunjungi di Kepulauan Seribu.

Saya sangat menyukai Kepulauan Seribu ini. Selain dekat dari tempat tinggal di Bogor, juga biayanya cukup murah. Selain menyajikan keindahan bawah laut seperti diving dan snorkeling, juga memiliki pantai-pantai yang indah dan jernih seperti di Pantai Pulau Perak dan Pulau Bulat. Percayalah, jika sedang berada di tempat ini, kita tidak akan percaya bahwa kita berada di wilayah DKI Jakarta! 

Kepulauan Seribu juga merupakan arena yang mengasyikan untuk memancing. Kepulauan Seribu juga mulai mengembangkan wisata kuliner dan menghasilkan produk-produk lokal seperti rumput laut di Pulau Pari dan teri medan di Pulau Lancang. Sebagai informasi, teri medan yang beredar di Jakarta itu bukan dari Medan tapi dari Pulau Lancang!

Tanpa terasa 1,5 jam sudah berlalu. Dan kita mulai memasuki dermaga Pulau Kotok. Pemandangan indah sudah tersaji di depan mata. Pasir putih. Laut yang biru bergradasi hijau menuju pantai. Rasanya ingin segera nyebur ke laut. Kami disambut oleh anak-anak pantai yang menjadi pekerja di Alam Kotok Island Resort dengan memakaikan semacam ikat kepala dari daun kelapa dan disajikan minuman selamat datang yang menyegarkan. 

Pulau Kotok - pantainya jernih dan bergradasi hijau
Langsung mengabadikan momen langka : foto bareng Riyanni Djangkaru di Pulau Kotok

Doa kami terkabul. Setelah check-in dan istirahat sejenak, kami harus segera melakukan persiapan diving pertama. Peralatan sudah dikeluarkan. Alat-alat mulai dipasang. Dan kami harus memasang sendiri peralatan sesuai dengan apa yang sudah diajarkan saat kursus. Tabung oksigen sudah dalam posisi berdiri dengan katup berada di bagian kanan. Buka selotip penutup tabung dan mulai memasukkan BCD ke dalam tabung. Pastikan jarak antara tutup tabung dengan ujung atas BCD sebesar lima jari. Lalu ikat bagian tabungnya dan cek dengan diangkat apakah sudah kuat terikat. Jika sudah pasangkan regulator dengan bagian inflator (untuk pernafasan) dan octopus (untuk cadangan pernapasan) yang berwarna kuning di bagian kanan. Sementara di bagian kiri adalah selang untuk masuk ke BCD dan alat pengukur kedalaman dan pemantau jumlah oksigen yang berada di dalam tabung. Lalu masukkan bagian tengah regulator ke ujung atas tabung. Kemudian dikencangkan. Masukkan selang tabung yang sebelah kiri ke bagian BCD untuk mengontrol jumlah udara yang masuk ke dalam BCD. 

Persiapan diving, harus bisa menyiapkan alat sendiri

Buka penutup tabung di bagian kanan. Buka ke bagian belakang hingga mentok dan kembalikan dua putaran ke depan. Hal ini dilakukan untuk mencegah jika ada teman yang mengecek kembali bahwa tabung sudah dibuka. Jika ternyata mentok, takutnya dikira belum dibuka dan diputar hingga mentok kembali. Padahal yang dilakukannya adalah menutupnya. Sedangkan jika diputar kembali ke depan, saat dicek tidak akan mentok dan tabung sudah dibuka.

Setelah itu cek alat pemantau isi tabung. Jika ada 200 PSI berarti tabung sudah penuh dan cukup terisi. Lalu cek alat pernapasan dan octopusnya apakah udaranya keluar. Jika semua sudah oke dan tidak ada masalah kita sudah siap melakukan penyelaman. Pasang masker, pakai BCD dan terakhir gunakan fin atau kaki katak. Buddy saya adalah Adhi dan dia juga sudah siap untuk melakukan penyelaman.

Saya sudah berdiri di ujung dermaga. Tangan kanan dengan tiga jari memegang masker dan alat pernafasan. Tangan kiri memegang tabung. Dan dengan teknik giant stride, saya melakukan diving yang pertama. Byurrrrr!

Satu per satu peserta melompat dengan teknik giant stride (foto : @vivanews)
Air dingin mulai merasuk ke seluruh tubuh. Segar sekali setelah berjam-jam merasakan udara pantai yang panas. Buddy saya pun mulai terjun. Begitu juga dengan Riyanni Djangkaru. Baginya diving sudah menjadi gaya hidup. Hampir setiap bulan dirinya melakukan diving. Bahkan setelah dari Pulau Kotok ini dia akan langsung terbang ke Raja Ampat. Kecintaaanya akan diving dituangkannya dengan mendirikan majalah khusus selam Divemag.

Jay yang menjadi instruktur kami, siap melakukan test di kedalaman 10 meter. Inflator mulai saya tekan dan saya meluncur pelan ke kedalaman. Tidak lupa melakukan equalise dengan memencet hidung dan menahan napas agar udara keluar dari telinga. Jika tidak dikeluarkan telinga akan terasa sakit dan sangat berbahaya. Equalise saya lakukan setiap turun 1,5 meter. Dan setelah mencapai dasar kami mulai melakukan test. Mulai mask clearing, membuka masker, membuka BCD, memberi octopus kepada buddy yang kehabisan oksigen, teknik membuka dan memasang pemberat, melakukan rescue ketika kehabisan oksigen serta rescue ketika buddy pingsan dan kita harus membawanya ke atas permukaan. Alhamdulillah saya melakukan test dengan baik dan dilakukan dengan benar. Tanpa terasa waktu 30 menit sudah berlalu dan kami harus segera naik ke permukaan.

***
           
Sungguh suatu pengalaman yang baru ketika sudah bisa melakukan diving dengan baik dan benar sesuai dengan aturan dan instruksi yang diberikan. Saya merasa bodoh ketika 2 tahun lalu memaksakan melakukan diving walau belum mempunyai sertifikat di Pulau Weh Sabang. Dan ketika itu saya juga tidak melakukannya dengan benar karena tidak tahu akibatnya.Saya tidak melakukan equalize dan memaksakan diving dengan telinga sakit dan meluncur dengan kecepatan tinggi saat akan ke permukaan. Sebuah tindakan yang berbahaya yang bisa merusak gendang telinga dan merusak paru-paru. Beruntung saya mendapat pelajaran yang sangat berharga ini dari instruktur bersertifikat NAUI. 

Waktu sudah menunjukkan tengah hari dan saatnya makan siang. Menu aneka makanan laut itu terasa sungguh menggoda dan setelah dicoba rasanya memang nikmat. Apalagi menyantapnya di tepian pantai dengan pemandangan yang menakjubkan. Dan setelah istirahat cukup, kami kembali harus bersiap-siap melakukan diving yang kedua. Kali ini pemasangan alat sudah mulai lancar dan dive kali ini adalah melakukan fun dive. 
Istirahat makan siang dengan pemandangan seperti ini. Serasa bukan di Jakarta!

Nah saat fun dive ini kami merasakan betul keindahan alam bawah laut. Saat mulai turun pun sudah terlihat seekor kura-kura sedang melintas. Lalu ada rombongan ikan-ikan kecil, kemudian terumbu karang yang bergerak-gerak. Indah sekali pemandangan bawah laut itu. Seperti melihat sebuah akuarium raksasa. Sayang saya tidak bisa mengabadikan moment tersebut karena tidak atau belum memiliki inhouse kamera DSLR. Sepertinya harus mulai mengumpulkan uang nih untuk membeli barang tersebut. Tanpa terasa waktu sudah berjalan selama 30 menit. Memang kalau sudah di dalam laut suka lupa daratan, padahal saat mengecek tabung oksigen sudah menunjukkan angka 50 PSI, angka minimal yang disarankan saat menyelam. Kurang dari angka tersebut akan sangat beresiko. Waktunya kembali ke daratan.

Hari sudah sore.Kami buru-buru membersihkan diri di kamar masing-masing, memburu keindahan lain yang akan segera datang : sunset!

Sunset di Pulau Kotok, serasa di lukisan-lukisan,. (foto : @vivanews)

Pulau Kotok memiliki keistimewaan. Seperti juga Pulau Harapan, dari pulau ini kita bisa melihat sunset dan juga melihat sunrise. Peristiwa ini bisa dilihat dari satu tempat yaitu di jembatan kayu yang menghubungkan dermaga dan pulau. 

Masih ada satu PR lagi yang belum di selesaikan yaitu ujian tertulis untuk mendapatkan sertifikat Scuba Dive. Dan setelah makan malam dengan menu ikan bakar yang lezat, dengan sisa-sisa tenaga kami mulai mengerjakan soal-soal ujian ditemani deru ombak tepi pantai Pulau Kotok.Satu jam kami habiskan untuk menyelesaikan ujian dan setelah itu acara bebas. Kami bermain kartu Werewolf. Nah kalau yang namanya main pasti lupa waktu dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam. Karena besok masih diadakan dua kali penyelaman, akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

***

Hari kedua di Pulau Kotok ditandai bangun kesiangan dan melewatkan sunrise. Sementara beberapa teman berhasil mengabadikan momen indah tersebut. Tapi ini juga bisa menjadi satu alasan untuk kembali ke tempat ini karena belum pernah melihat sunrise :)

Setelah sarapan kami melakukan kembali sesi fun dive. Kali ini lebih dalam yaitu 18 meter. Dan pemandangannya pun lebih menakjubkan. Tumbuhan laut semakin beragam. Demikian pula dengan ikan-ikannya. Dan saya menemukan ikan badut atau lebih dikenal sebagai nemo. Yeah I'm finding Nemo! Bahkan mendapat bonus menemukan teman bapaknya nemo yaitu Dori. Bisa jadi sutradara film tersebut diving disini kali ya karena ikan-ikan yang ada dalam filmnya ada disini semua termasuk kura-kura yang kami temukan kemarin.

Kembali kami diliputi perasaan lupa daratan. Kali ini bahkan jarum penunjuk oksigen bukan di angka 50 lagi, tapi sudah mendekati angka 0. Saya perlihatkan kepada instruktur dan dia segera memberikan kode jempol ke atas seperti like di Facebook yang artinya harus segera naik ke permukaan. Setelah istirahat 30 menit kembali dilakukuan penyelaman ke-2. Kali ini ke sebelah kiri pulau yang menyajikan keindahan yang tidak begitu jauh berbeda.

Dan akhirnya setelah puas, benar-benar puas melakukan 4 kali penyelaman selama 2 hari, akhirnya harus diakhiri juga. Awalnya banyak peserta khawatir apakah bisa melakukan diving dengan baik, namun setelah melakukannya mereka mulai ketagihan. Sudah ada semacam obrolan, "Jadi kapan kita diving lagi?" "Ke Pulau Pramuka aja yuk?" "Eh katanya Pula Sepa juga bagus lho?" Bahkan Bang Jhon menawarkan untuk naik tingkat menjadi seorang Advance Diver. 

Obrolan di resto sambil santap siang lebih seru lagi. "Ternyata keindahan bawah laut di Kepulauan Seribu tidak kalah ya dengan tempat lain." Ada lagi yang menyahut, "Sumpah, ini serasa bukan di Jakarta!" Ada juga yang mengatakan, "...bisa jadi mereka yang pergi jauh-jauh cuma mengejar gengsi aja, padahal di Kepulauan Seribu juga bagus..". "Bisa jadi..." yang lain menimpali.

Kehadiran biawak di restoran mengagetkan beberapa wisatawan
Tiba-tiba kita dikagetkan oleh kehadiran binatang yang menyerupai komodo masuk ke area restoran dan menjadi pemandangan unik. Beberapa teman mulai mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan peristiwa langka tersebut. "Nggak usah jauh-jauh ke Pulau Komodo ya di Pulau Kotok juga ada...:" teman-teman lain langsung tertawa. Binatang tadi adalah seekor biawak yang sudah jinak dan biasa masuk ke resto jika ada tamu yang datang. Mungkin mau mengucapkan selamat datang :)

Speedboat yang menjemput dan mengantar kami dari Pantai Marina
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat dan kita harus segera kembali ke Pantai Marina, Ancol. Dua hari satu malam rasanya kurang cukup untuk trip seperti ini. Masih kuraaaang lamaaa. Namun waktu jugalah yang memisahkan. Tentu perjalanan yang seru ini tidak akan mudah terlupakan. Mesin sudah dinyalakan, kami semua sudah duduk di kursi masing-masing. Anak-anak pantai yang menyambut kami kemarin antusias melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Padahal baru dua hari bertemu tapi rasanya sudah seperti teman lama. Ya itulah jika suatu hubungan dilandasi oleh hati yang tulus. Lambat laut kapal mulai meninggalkan dermaga. Meninggalkan Pulau Kotok yang indah yang lambat laun menjadi mengecil dan hilang ditelan cakrawala. Guncangan ombak tidak kami hiraukan karena kami semua sudah terlelap dalam mimpi indah. Ya mimpi agar suatu saat bisa kembali ke Kepulauan Seribu dan mengunjungi pulau-pulau indah lainnya yang belum dikunjungi. 


Foto bersama sebelum meninggalkan Pulau Kotok
Foto bersama Bang Jhon, Course Director NAUI, setibanya di Pantai Marina
Dan seperti yang pernah saya janjikan dalam postingan sebelumnya, jika saya lolos 10 besar, saya akan membuat video trip ke Pulau Kotok. Berikut link videonya bisa dilihat disini



#EnjoyJakarta 

Thursday, June 27, 2013

[EnjoyJakarta] 3 Hari, 2 Malam dan Satu Senja di Kepulauan Seribu

Untuk kedua kalinya saya mendapat kesempatan mengunjungi Kepulauan Seribu. Beberapa waktu lalu sempat mengunjungi Pulau Harapan, Pulau Bulat dan Pulau Perak. Kali ini bersama teman-teman blogger traveler akan mengunjungi Pulau Pari, Pulau Lancang, Pulau Putri, Pulau Harapan (lagi), Pulau Pramuka dan Pulau Nusa Keramba. Kalau dulu naik dari pelabuhan Muara Angke, sekarang mencoba naik dari Pantai Marina Ancol. Kalau dulu naik kapal angkutan rakyat, sekarang menggunakan kapal cepat dengan mesin 4 x 200 HP. Yay!

Tepat pukul sembilan pagi kami berangkat. Tujuan pertama adalah Pulau Pari. Dan dalam waktu satu jam wuzzzz kapal sudah tiba di dermaga Pulau Pari. Sempat berhenti dua kali karena baling-baling kapal tersangkut sampah. Duh coba ya orang Jakarta jangan buang sampah ke laut dong.

Di Pulau Pari sudah tersedia sepeda yang siap dinaiki. Ya di pulau yang bentuknya mirip ikan pari ini hanya ada transportasi sepeda untuk berkeliling. Kami menuju Pantai Perawan yang sudah dikenal sebagai pantai yang indah dengan pasir putihnya. Sepanjang perjalanan di sebelah kiri dan kanan terdapat rumah penduduk yang tertata rapi dan bersih. Jalanan terbuat dari paving blok yang terawat dan saat tiba di tempat tujuan pemandangan di kiri dan kanan adalah laut. Ya semakin lama pulau semakin mengecil hingga ke ujung menyerupai ekor ikan pari. Disini kami juga sempat melihat budidaya rumput laut yang menjadi mata pencaharian utama warga Pulau Pari. Rumput laut ini bisa diolah menjadi makanan seperti dodol, agar-agar, asinan hingga keripik. Penduduk setempat juga sudah mengolah rumput laut menjadi bahan jadi dan kami membelinya untuk oleh-oleh.

Ber levitasi hore di Pantai Perawan Pulau Pari (Foto : Koleksi Pribadi)

Setelah puas foto-foto dan menikmati makan siang di tepi Pantai Perawan, perjalanan kami lanjutkan ke pulau sebelah yaitu Pulau Lancang yang merupakan penghasil ikan teri dan rajungan. Ikan teri yang dihasilkan adalah ikan teri apa yang selama ini kita kenal sebagai “Teri Medan”. Jadi ikan teri medan yang sering kita temui di Jakarta adalah berasal dari Pulau Lancang. Oh ternyata selama ini kita terkecoh dengan nama ya. Pulau Lancang yang memproduksi tapi Medan yang punya nama J

Sedangkan rajungan adalah hewan sejenis kepiting, namun perbedaannya adalah rajungan tidak bisa hidup di darat seperti kepiting. Namun untuk rasanya tidak jauh berbeda, malah rajungan lebih mudah untuk membongkar isi jeroan dibanding kepiting. Ini kita buktikan saat melakukan makan sore dengan menu kedua makanan diatas. Menjelang sore kami segera meninggalkan Pulau Rajungan untuk mengunjungi pulau berikutnya yaitu Pulau Putri.

Hidangan Kuliner Rajungan dan Ikan Teri Siap Santap!
(Foto : Koleksi Pribadi)

Dalam waktu kurang lebih satu jam kita sudah sampai di Pulau Putri yang merupakan pulau resort terbaik di Kepulauan Seribu. Fasilitas yang ada di pulau ini cukup lengkap seperti kolam renang, terowongan bawah laut untuk melihat ikan, akuarium raksasa di restoran, diving dan snorkeling spot dan tentu saja resort dengan standar internasional. Disini juga menyediakan glass bottom boat yang akan berkeliling sekitar pulau, di bagian bawah kapal kita bisa melihat pemandangan bawah laut dengan leluasa. 

Pemandangan dari Glass Bottom Boat (Foto : Koleksi Pribadi)

Setiap menjelang sunset, kapal juga akan berkeliling selama satu jam memanjakan para penumpang untuk melihat sunset dan keindahan lautan menjelang senja. Dan di Pulau Putri ini kami akan menginap. Asyiiik. Namun setelah menikmati pemandangan di sekitar pulau seperti foto-foto sunset dan keindahan lainnya, setelah mendapatkan kunci kamar resort masing-masing bukannya beristirahat, tapi malah buka baju dan pake celana renang dan langsung byurrrr terjun ke kolam renang di depan resort. Memang kalau sedang berwisata itu tidak ada kata capek yah. Hanya lapar yang dapat menghentikan kami. Ya waktunya makan malam sudah tiba. Dengan menu barbeque dan ditemani iringan live musik, kami semua makan dengan lahap. Setelah selesai kami kembali ke resort masing-masing untuk istirahat dan mempersiapkan untuk kegiatan esok hari.

Patung Putri Duyung di  Pulau Putri (Foto : Koleksi Pribadi)
***

Hari kedua kami menuju Pulau Harapan. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi pulau ini. Tidak ada yang berbeda. Tetap indah. Pulau Harapan adalah salah satu pulau wisata yang berpenduduk. Saya suka pulau ini karena di sini kita bisa melihat sunrise dan sunset di satu tempat yaitu di dermaga. Selain melihat keindahan pantai kami juga disini melakukan penanaman pohon mangrove yang berada di sekitar pantai. Pohon mangrove di laut sama gunanya seperti hutan di daratan. Jadi jangan dianggap enteng. Hutan lindung di darat berguna untuk melindungi ekosistem. Begitu juga hutan mangrove di laut. Hutan mangrove juga berfungsi sebagai pelindung pulau jika ada badai atau bahkan tsunami. Setidaknya bisa mereduksi dahsyatnya gelombang yang datang. Di Kepulauan Seribu terdapat hutan mangrove di Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, Pulau Penjaliran dan Pulau Pari. Sedangkan di Pulau Harapan saat ini sudah mulai dikembangkan. Namun ada satu yang sangat disayangkan yaitu jalan lingkar pulau di bagian selatan belum selesai dan menjadi tempat pembuangan sampah. Sepertinya harus segera diselesaikan ya karena dari sana tercium bau kurang sedap dan sangat tidak sehat. Mudah-mudah tahun ini sudah diselesaikan ya sesuai dengan janji Pak Lurah saat kita bertemu.

Suasana damai di Pulau Harapan (Foto : Koleksi Pribadi)
Menjelang siang kami kembali harus melaut meninggalkan Pulau Harapan menuju destinasi berikutnya yaitu Pulau Pramuka yang merupakan ibukota dari Kabupaten Kepulauan Seribu.

Wilayah Kepulauan Seribu sendiri merupakan bagian dari wilayah pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Terdiri dari 110 pulau yang terdiri dari 11 pulau berpenghuni, 9 pulau wisata dan sisanya pulau pribadi dan pulau kosong (tidak berpenghuni). Jadi dari mana istilah “Kepulauan Seribu” berasal? Ya mungkin dulunya orang melihat banyak sekali pulau yang ada di wilayah ini sehingga dengan mudah menyebut kepulauan seribu, padahal setelah dilakukan survey dan perhitungan jumlahnya hanya 110 pulau.

Sesampainya di Pulau Pramuka kami langsung makan siang dan setelah itu langsung berkeliling pulau. Sejarah Pulau Pramuka sendiri menurut penduduk setempat dulunya nama pulau ini adalah Pulau Elang, karena banyak burung elang di pulau tersebut. Namun pada tahun 1980an diadakan perkemahan dan jambore oleh Pramuka dan sejak saat itu pulau ini dikenal sebagai Pulau Pramuka. Di pulau ini juga dikenal sebagai tempat yang indah untuk melakukan diving dan snorkeling.

Menjelang sore kami harus kembali ke Pulau Putri karena akan ikut tour menggunakan kapal “Princess Island 1” untuk melihat keindahan laut sekitar Pulau Putri dan menyaksikan sunset.

Sungguh suatu pengalaman baru menyaksikan sunset dari atas kapal. Jika selama ini saya melihat sunset dari tepi pantai, kini sudah merasakan dari atas kapal. Satu jam kami berkeliling. Melihat keindahan laut dan pulau di Kepulauan Seribu. Menyaksikan matahari tenggelam dibalik cakrawala. Menyaksikan suasana laut dari terang menjadi temaram hingga gelap dan melihat satu keindahan lain : Sebuah Senja di tengah laut Kepulauan Seribu. Rasanya ingin waktu berhenti saat itu juga. Sungguh suatu suasana yang begitu syahdu.

Senja di tengah laut Kepulauan Seribu (Foto : Koleksi Pribadi)
Namun waktu terus berputar dan kami harus segera kembali ke Pulau Putri. Langsung dilanjutkan makan malam kali ini bukan di resto, tapi beach party di tepi pantai. Hingga tengah malam menjelang kami baru kembali ke resort masing-masing.

***

Hari ketiga rencananya kami akan melakukan kegiatan snorkeling di sekitar Pulau Putri. Namun rupanya cuaca kurang bersahabat. Sejak pagi hujan sudah turun. Semakin lama semakin deras. Untuk sarapan pun kita harus berbasah-basahan jalan kaki dari resort ke resto. Menjelang siang hujan sudah reda dan waktu check out meninggalkan Pulau Putri. Saat di dermaga kami sempat melihat spot snorkeling yang sedianya akan kita selami. Namun ternyata tanpa menyelam pun dasar lautnya sudah keliatan saking jernihnya. 

Mudah-mudahan lain waktu bisa kesampaian snorkeling di tempat ini, bahkan sekalian diving.
Semua sudah naik kembali ke kapal dan mulai bergerak menuju destinasi berikutnya Pulau Nusa Keramba. Kurang dari satu jam kami sudah sampai dan hidangan makan siang sudah menanti. Di pulau ini banyak sekali kolam-kolam ikan yang diberi jaring seperti kolam. Mungkin karena itulah diberi nama keramba yang artinya kolam. Disini juga kita bisa membeli oleh-oleh ikan tongkol segar yang siap dimasak saat sampai dirumah. Setelah selesai makan siang kami kembali melaut dan kembali ke Pantai Marina Ancol.

Ya perjalanan seru ini harus diakhiri. Setelah 3 hari, 2 malam dan satu senja yang indah di Kepulauan Seribu yang tak terlupakan. Semoga dalam trip berikutnya bisa singgah di pulau yang belum sempat disinggahi seperti Pulau Tidung yang terkenal dengan jembatan cinta-nya, Pulau Kotok yang terkenal dengan spot diving-nya dan pulau-pulau indah lainnya.


Saya mencoba membuat dokumentasi berupa VideoTrip tentang perjalanan tak terlupakan “Keindahan Kepulauan Seribu” yang bisa dilihat disini

Enjoy Kepulauan Seribu. 
#EnjoyJakarta




Tuesday, April 16, 2013

Menggapai Harapan di Pulau Harapan

Trip kali ini akan mengunjungi Pulau Harapan, sebuah pulau di antara gugusan Kepulauan Seribu. Selama ini saya sering traveling ke berbagai tempat tapi mengunjungi Kepulauan Seribu baru kali ini. huhu..

Janjian dengan teman-teman untuk berkumpul di Pelabuhan Muara Angke jam 06:00 pagi, namun karena satu dan lain hal saat tiba di lokasi waktu sudah menunjukkan 06:59. Wah telat banget ya. Dan ternyata setelah tiba di pelabuhan kapal yang akan ditumpangi sudah penuh. Agak shock juga melihatnya karena banyak sekali orang sampai ada yang bergelantungan di dek kapal, seperti naik kopaja aja ya. Otak langsung berpikiran yang nggak-nggak. Begitu pula saat masuk dek, semua orang tumplek blek disana, seperti imigram-imigran gelap yang akan mencari suaka ke Australia. Pelampung sudah berubah fungsi menjadi alas duduk dan alas tidur. Waduh gimana ini kalau terjadi sesuatu...

Tapi sudahlah, the trip must go on, tali penambat sudah dilepaskan, jangkar sudah diangkat dan kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan tepat jam 07:30. Yang bisa dilakukan adalah berdoa agar selamat sampai tujuan.

Dan ketika saya tanya ABK kira-kira jam berapa tiba di Pulau Harapan dia menjawab sekitar jam 11.00. Satu jam perjalanan ombak masih tenang, namun pada detik berikutnya ombak mulai tinggi. Berayun-ayun seperti wahana kora-kora di Dunia Fantasi, beberapa orang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin, terlihat ada mual dan mulai mengeluarkan jackpot (*muntah). Pemandangan di depan mata, seseorang tiba-tiba muntah dan muntahannya tepat mengenai temannya yang sedang tidur dibawahnya. Wah double tuh jackpot-nya.

Saat singgah di Pulau Pramuka beberapa orang siaga, penggalang dan pembina, turun :D, kondisi kapal sudah agak lowong, sudah bisa rebahan dan tidak terlalu padat seperti sebelumnya. Ombak juga sudah mulai bersahabat, namun matahari sudah mulai menampakkan kekuasaannya. Puanassss. Ubek-ubek tas nyari sunblock. Dan tepat pukul 11:00 seperti perkiraan ABK tadi kapal tiba di Pelabuhan Pulau Harapan.

Tiba di Pulau Harapan

Kami langsung menuju homestay yang sudah dipesan, cukup beruntung kami mendapat homestay yang masih dekat dengan pelabuhan, hanya selemparan batu. Setelah bersih-bersih kami langsung makan siang dengan menu makanan khas laut yang siap dilahap : sayur asem plus udang goreng!

Setelah maksi kami langsung siap-siap kembali melaut untuk melakukan snorkeling di beberapa spot di sekitar Pulau Harapan. Dan akhirnya byurrr... tanpa ba-bi-bu lagi kami semua terjun ke lautan. Ada yang sudah sering snorkeling, ada juga yang baru pertama kali. Jika sudah puas di suatu tempat kami pindah ke lokasi yang lainnya. Begitu seterusnya hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17:00.

Lokasi Snorkeling di sekitar Pulau Harapan

Kami harus segera kembali ke Pulau Harapan karena akan mengejar sunset. Setelah mengabadikan sunset kami kembali ke homestay untuk bersih-bersih sebelum menyantap hidangan malam plus barbeque ikan tongkol. Duh, makan lagi - makan lagi. Dan setelah makan, karena tenaga sudah lelah, akhirnya saya pamit kepada teman-teman untuk tidur terlebih dahulu, selain capek, juga mempersiapkan untuk keesokan harinya.

***

Karena tidur cepat, maka pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan mencoba untuk mengelilingi pulau yang memiliki luas hanya sekitar kurang lebih 3 hektar. Oya kelebihan pulau ini adalah kita bisa menyaksikan sunset dan sunrise sekaligus. Jadi pagi ini saya juga bisa menyaksikan saat matahari terbit. Itulah mungkin mengapa pulau ini diberi nama Pulau Harapan, karena setelah matahari tenggelam pasti esok pagi akan terbit lagi matahari dari timur yang memberikan harapan *halah*

Saat Sunrise

Dan pagi itu saya menyaksikan matahari terbit sambil ditemani sarapan sekoteng. Ya sekoteng! Agak aneh juga sih sarapan sekoteng, tapi tetep aja laku. Setelah itu kembali ke homestay dan berkumpul dengan teman-teman untuk sarapan pagi, setelah itu kita kembali tour mengunjungi pulau-pulau yang ada disekitar Pulau Harapan.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Bulat. Menurut guide kami dulu pulau ini milik keluarga cendana, namun sekarang dikembalikan lagi dan dikelola oleh rakyat setempat. Pulau ini bagus dan terawat, pantainya jernih dan hijau. Jika ingin bermain di pantai dengan kondisi tidak panas alias teduh, ini adalah tempat yang tepat karena sebagian pantai terhalang oleh pohon-pohon yang menghalangi sinar matahari. 

Pulau Bulat

Selanjutnya kami menuju Pulau Perak. Dalam perjalanan kami juga melewati Pulau Putri yang dikelola oleh Pemda DKI Jakarta. Dipulau ini terdapat terowongan yang dapat melihat keindahan dalam laut dan berbagai atraksti watersport seperti banana boat dan kapal akuarium. Untuk memasuki pulau ini harus membayar Rp 50.000,- *skip*

Dan akhirnya kami tiba di Pulau Perak. Sama dengan pulau-pulau lainnya, pulau ini termasuk pulau kecil dengan luas tidak lebih dari 3 hektar. Pulau ini juga pantainya jernih dan dangkal, sangat cocok untuk anak-anak. Dan jika di rumah atau tetangga punya akuarium sangat cocok untuk membawakan oleh-oleh kerang yang banyak bergelimpangan di sepanjang pantai.

Satu jam kami habiskan di tempat ini dan tidak terasa harus segera kembali ke Pulau Harapan untuk mengejar keberangkatan kapal yang akan kembali ke Muara Angke pada jam 13:00

Dua hari sudah kami habiskan di Pulau Harapan ini. Puas rasanya menghabiskan weekend ditempat ini dengan biaya paket Rp 315.000 dari EO Langkah Kaki Adventure, walau perjalanan menuju ke tempat ini cukup membuat sport jantung.

Ya, semoga setelah mengunjungi pulau ini segala harapan dapat terwujud, sesuai dengan nama pulaunya.

Pulau Perak

Monday, April 8, 2013

Curug Sawer, Bogor


Curug Sawet berada di desa Ciapus, Taman Sari Kabupaten Bogor. Lokasinya tidak jauh dari tempat wisata Curug Nangka. Dari portal penjagaan yang akan masuk ke Curug Nangka kita berbalik arah ke arah Gadog Sisi. Akan ada jalanan turunan kurang lebih 1,5 km, nah di sebelah kiri ada petunjuk untuk ke Curug Sawer, kurang lebih 300 meter dari tempat itu kita bisa menemukan curug tersebut.

Curug ini masih belum banyak dikenal seperti Curug Nangka atau Curug Luhur. Namun pemandangan yang disajikan tidak kalah menarik dari curug lainnya. Kami dari Bogor menggunakan sepeda untuk mencapai lokasi tsb. Jaraknya memang hanya kurang lebih 15 km tapi evelasinya cukup tinggi alias nanjak tiada henti. Namun segala rasa capek hilang seketika ketika sampai di tempat ini, apalagi jika langsung mandi di Curug Sawer.

Berikut foto-foto lokasi tersebut.






Saturday, April 6, 2013

Malang City Tour


Hari kedua di Kota Malang saya beserta rekan2 akan mengadakan trip keliling Kota Malang alias Malang City Tour. Destinasi pertama adalah oleh-oleh khas Malang seperti keripik apel, nangka, mangga, sampai salak ternyata ada juga lho. Kami dibawa ke Toko Lancar Jaya (seperti nama bis ya :)) ada yang lucu nih, didepannya ditulis "melayani pengiriman ke seluruh dunia". Wah mantap nih pelayanannya.
Setelah selesai beli ini itu dan bertambahlah barang bawaan sebanyak 1 dus mie instant. Hadeuh semoga nggak over bagasi. Perjalanan dilanjutkan ke destinasi kedua yaitu Klenteng "Eng An Kiong" yang dibangun pada tahun 1825. Wow sudah lebih dari 1 abad ya, tapi kondisi bangunan masih terawat dan berdiri dengan megah. Kebetulan hari itu sedang diadakan upacara, jadi kita tidak boleh memasuki area sembahyang. Kalau sedang tidak upacara sebenarnya juga tidak boleh sih memasuki area itu :D Namun kita bisa memasuki area yang ada disampingnya dan memotret bagian2 dari sebelah sana.
Setelah puas foto-foto perjalanan kembali dilanjutkan dan kali ini kita mengunjungi toko "OEN" yang sudah dibangun sejak jaman Belanda tahun 1930.  Memasuki toko ini seperti terlempar ke masa lalu, dekorasinya masih menggunakan barang-barang jadul, termasuk properti seperti meja dan kursi dan juga pegawainya yang masih menggunakan pakaian seperti jaman dulu. Dan menunya pun ada yang masih dipertahankan seperti es krim khas Belanda dan makanan khas lainnya. Kita eh saya sudah siap2 duduk aja dan memesan makanan tapi ternyata skedul makan bukan disini, ah terlanjur malu jadi pura-pura meluruskan badan saja :D
Nah destinasi berikut baru ke tempat makan karena waktu sudah menunjukkan angka jam 12.00. Adapun tempat makan yang dituju adalah restoran "INGGIL". Saya cukup kaget ternyata didalam restoran  ini terdapat musium yang menampilkan barang-barang jaman dulu, peninggalan sejarah dan suvenir-suvenir cantik. Wah rasanya jika ke Malang tidak mampir ke tempat ini pasti akan rugi. Selain makanannya enak, juga menampilkan beberapa sejarah perjuangan bangsa seperti kliping koran, foto-foto jaman dahulu, wajah asli Bung Tomo dan Pak Dirman juga ada disini.
Koleksi Topeng di Resto Inggil
Koleksi Korek Api Jadul
Foto asli Bung Karno, Bung Tomo dan Pak Dirman
Serasa di tepi gunung padahal itu adalah foto ukuran besar
Iklan Rokok Jadul : Isaplah ini Roko
Saya sangat terkesan sekali dengan restoran ini, bagaimana mungkin sebuah tempat makan yang dimiliki oleh swasta memiliki peninggalan-peninggalan sejarah yang sangat penting. Pemiliknya pasti seorang kolektor dan pecinta seni yang menyukai sejarah. Salut dengan pemiliknya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 sementara masih belum puas mengelilingi "musium" ini. Namun karena jadwal penerbangan 1, 5 jam lagi terpaksa meninggalkan tempat ini menuju Bandara Abdurrahman Saleh, Malang. Suatu saat, jika kembali ke Malang pasti akan kembali ke tempat ini.