Pulau Komodo, The Real "Wonderful Indonesia"

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kalong, Pantai Pink, dan semua tempat-tempat yang kami datangi benar-benar mencerminkan keindahan alam Indonesia

Taman Nasional Baluran

Salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur

Menjelajahi Tanah Air Beta

"...Walaupun banyak negeri kujalani Yang masyur permai dikata orang, Tetapi kampung dan rumahku Di sanalah ku merasa senang Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan ...".

3000 km Jelajah Daratan Sulawesi

Perjalanan ribuan kilometer dengan melewati seluruh propinsi di Sulawesi memang sulit untuk ditolak. Rasanya ini akan menjadi petualangan yang paling jauh yang pernah dilakukan.

Mengunjungi Habitat Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Tidak mudah untuk menemukan keberadaan orangutan tersebut. Kita harus sabar menunggu mereka keluar untuk beraktifitas.

Wednesday, October 8, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-2] Mengungkap Misteri Suku Bajo di Torosiaje Gorontalo

Ekspedisi Terios 7 Wonders "Amazing Celebes Heritage" memasuki hari ke-2 dan destinasi yang akan dikunjungi adalah Kampung Suku Bajo yang berada di Desa Torosiaje, Gorontalo. Keunikan dari kampung ini adalah seluruh rumah dan fasilitasnya berada di atas laut. Ya benar-benar di atas lautan lepas pantai Torosiaje, Gorontalo. Saat kami mengunjungi kami menggunakan sampan tradisional yang dapat diisi penumpang sebanyak 5 orang. Dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit kita sudah sampai di dermaga Kampung Bajo. Kami disambut oleh Pak Tama yang menjadi kepala dusun di Kampung Bajo. Pak Tama menjelaskan tidak hanya rumah penduduk saja yang berada di kampung di atas laut ini, tetapi ada juga pusat pemerintahan tingkat desa, aula, masjid, hingga penginapan umum. Jadi seperti sebuah kampung pada umumnya.

Welcome to Bajo
Selanjutnya Pak Tama menjelaskan bahwa mereka yang menghuni kampung ini adalah Suku Bajo dan suku lainnya jika ada yang menikah antar suku. Pak Tama sendiri aslinya orang Makassar, namun karena beliau menikah dengan seorang suku Bajo, akhirnya dia menetapkan diri untuk tinggal di kampung ini. Adapun alasan mengapa dia mau tinggal di tempat ini karena ia merasakan ketenangan karena jauh dari kebisingan kendaraan dan dekat dengan pekerjaan sehari-hari yaitu sebagai nelayan, jadi jika ingin melaut tinggal turun saja karena perahu selalu disandarkan di belakang rumahnya.

Kampung Bajo, Kampung di atas laut, Torosiaje Gorontalo
Lebih jauh Pak Tama menjelaskan bahwa suku Bajo ini banyak tersebar di pesisir pantai di seantero nusantara, bahkan sampai ada juga yang terdampar di Philipina. Awal mulanya kerajaan Bajo terdapat di wilayah Selat Malaka. Saat itu sang raja kehilangan puteri satu-satunya saat sedang berada di laut. Mendengar sang puteri hilang kemudian sang raja memerintahkan segenap pengawal dan rakyatnya untuk mencari keberadaan sang putri. Sebagai abdi kerajaan dan rakyat yang patuh, mereka para pengawal dan rakyat bahu membahu mencari keberadaan sang putri di lautan. Begitu sayangnya sang raja kepada putrinya, beliau memerintahkan kepada para pengawal dan rakyatnya yang akan melakukan pencarian hingga terucap kata, "Jangan kalian pulang sampai puteriku ditemukan!"

Dan sejak saat itu para pengawal dan rakyat suku Bajo mencari keberadaan sang puteri di segala penjuru lautan. Mereka tidak berani pulang karena tidak menemukan sosok sang puteri. Mereka lebih memilih tinggal di setiap pesisir pantai yang disinggahinya. Itulah sebabnya keberadaan suku Bajo ada di segenap penjuru nusantara. Mereka ada di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Wakatobi, Kendari, bahkan hingga ada yang terdampar kepulauan Sulu di Philipina Selatan dan Thailand. Dan semua itu mereka tinggal di atas laut!


Bagi Suku Bajo hidup di atas laut adalah sebuah pilihan. Mereka pernah mencoba untuk hidup seperti manusia normal di daratan, namun setelah dijalani tidak bertahan lama. Mereka kembali ke kehidupan di atas lautan. Menghirup udara laut, menikmati kesunyian dan deru ombak tanpa henti. Suku Bajo juga dikenal sebagai manusia yang mahir menahan nafas di dalam air hingga beberapa menit, bahkan ada yang bisa mencapai 11 menit. Kegiatan yang mereka lakukan adalah menyelam untuk mencari ikan atau lobster yang berada di dasar laut. terungkap juga Cerita tentang adanya "manusia ikan" yang selama ini keberadaannya menjadi misteri. Pak Tama mengungkapkan bahwa sang manusia itu memang ada. Seng - nama manusia ikan tersebut - hidup di lautan. Menyelam cukup lama dan hanya tidur di atas papan yang mengambang di laut. Namun sayang pada tahun 2007 meninggal dunia dalam usia 38 tahun. Saat ini keluarganya pun masih ada.

Sejak kecil anak-anak suku Bajo sudah mengenal laut
Setelah panjang lebar menceritakan sejarah suku Bajo, Pak Tama kemudian mengajak kami berkeliling kampung. Melihat kehidupan yang hampir sama dengan daratan, hanya bedanya di atas laut saja. Di sana ada warung, bengkel, bahkan nama jalanpun ada. Listrik dan air PDAM juga sudah masuk dan menjadi fasilitas yang memadai. Pondasi rumah yang ditopang oleh kayu Gopasa terlihat sangat kokoh, bahkan bisa bertahan hingga 30 tahun.
Suasana jalan di dalam Kampung Bajo
Satu lagi terungkap misteri keberadaan sejarah suku Bajo yang akan menjadi sebuah catatan budaya di nusantara. Tidak terasa waktu terus berjalan dan kami melanjutkan perjalanan lintas propinsi dari Gorontalo menuju Palu di Sulawesi Tengah yang kami tempuh dalam waktu 8 jam melewati daerah Kasimbar dan Toboli yang melewati pegunungan dan pesisir pantai. Rasa lelah hilang seketika sesaat setelah tiba di Kota Palu dan menyantap sup daging lembu yang menjadi kuliner khas daerah ini : KOLEDO


Koledo, kuliner khas Kota Palu. 

Saturday, October 4, 2014

Terios 7 Wonders : [Day-1] Manado - Torosiaje : Perjalanan Panjang 668 km Selama 18 jam



Aku tergelak dalam nuansa senang
Fajar temaram menyuguhkan keindahan alam
Siapa pencipta engkau nan indah

Fajar di lokon terlihat menggoda
Pusaran awannya bak alur kehidupan
Berputar melingkar dengan damai

Ku seruput secangkir kopi sembari tersenyum
Kenikmatan lukisan tuhan
Tak sebanding dengan secangkir kopi

Perjalanan tetap berlanjut
Meski enggan berpisah denganmu
Fajar di lokon terlihat menggoda

(Ahmad Faruq)

Seorang teman langsung membuatkan puisi di atas ketika foto pemandangan Gunung Lokon Manado saya upload di twitter. Foto di atas merupakan pemandangan Gunung Lokon yang saya ambil dari lantai 6 Hotel Aryaduta saat siap-siap berangkat menuju acara opening ceremony ekspedisi "Amazing Celebes Heritage" di Daihatsu Malalayang, Manado.



Hari ini 2 Oktober 2014 adalah hari dimulainya ekspedisi tahunan #Terios7Wonders. Kami disambut oleh tarian Kawasaran dari Minahasa. Tarian ini menyuguhkan ketangguhan prajurit kerajaan dalam menghadapi musuh dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut akhirnya secara resmi ekspedisi Terios 7 Wonders ke-3 Episode Amazing Celebes Heritage dimulai!

Tari Kawasaran
Bersama 5 Blogger Sahabat Petualang
Dan perjalananpun dimulai !

Misi pertama adalah mengunjungi Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa Dior di Tompaso. Kami disambut lagu "Maju Tak Gentar" yang dibawakan oleh alat musik tiup dari bambu yang berbentuk seruling dan terompet yang terbuat dari logam. Kami mencoba untuk meniup seruling tersebut tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berkali-kali mencoba ternyata sulit juga. Ternyata perlu trik khusus untuk memainkan alat musik ini.


Alat tiup dari bambu dan logam yang unik
Inilah terompet terbesar di dunia
Tercatat dalam Guiness World Record
Namun ada satu yang membuat bangga, yaitu di tempat ini terdapat terompet raksasa yang ternyata merupakan terompet terbesar di dunia dan masuk Guiness World Record. Selain terompet terdapat juga kolintang terbesar dan 5 jenis atraksi yang masuk dalam rekor dunia. Jadi totalnya ada 7 rekor, persis seperti 7 wonders.

Pusat Kebudayaan ini juga menyajikan beberapa kebudayaan khas Sulawesi Utara seperti adanya Rumah Tenun Kain Pinatewengan, yang menerangkan proses pembuatan tenun dari benang hingga menjadi kain. Ternyata rumit juga ya, perlu 3 minggu untuk pembuatan 1 kain secara tradisional. 

Ada juga Wale (Rumah) Anti Narkoba yang memberikan edukasi tentang bahaya narkoba. Ketika masuk dan melihat dampak narkoba bagi manusia, jangankan ingin mencoba, menyentuhnya saja tidak ingin sama sekali. Ditampilkan juga beberapa artis internasional yang menjadi korban narkoba seperti Michael Jackson, Whitney Houston dan Marilyn Monroe dalam bentuk poster. Ada juga daftar orang-orang terkenal yang menjadi korban keganasan narkoba.

Setelah berkeliling pusat kebudayaan, kami disuguhi makan siang khas manado, tentu dengan sambal khas rica-rica sambil diiring lagu-lagu yang dibawakan oleh alunan musik dari bambu.

Namun karena perjalanan masih panjang, akhirnya kami harus segera pergi menuju destinasi berikutnya. Tepat pukul 14.00 kami meninggalkan Tompaso menuju Kawangkoan, Bintauna, Isimu, Marissa dan akhirnya sampai juga di Torosiaje pada pukul jam 07.00 pagi.

Perjalanan 18 jam menempuh 668 km melalui jalan berliku, menaiki tanjakan terjal dan turunan curam. Melewati desa-desa terpencil di Sulawesi Utara yang jauh dari keramaian kota, bahkan jaringan internet pun tidak ada. Kami hanya istirahat saat waktu sholat, makan malam dan mengisi bahan bakar. Namun rasa penat hilang begitu melihat pemandangan-pemandangan yang indah saat kami lewati. 

Menempuh berbagai medan
Dan saat menginap di atas Terios rasa pegal tidak begitu terasa karena rasa nyaman yang kami dapatkan saat berada didalamnya. Suspensi yang empuk, AC yang sejuk dan head unit yang menyajikan lagu-lagu kesayangan menjadi teman sejati sepanjang perjalanan.

Berikutnya destinasi yang tidak kalah hebat sudah menanti yaitu Kampung Bajo, sebuah desa yang berada di atas laut. Nantikan segera reportasenya.

foto : koleksi pribadi


     
   


Wednesday, October 1, 2014

Terios 7 Wonders : Ekspedisi "Amazing Celebes Heritage" Dimulai!

Dan akhirnya ekspedisi #Terios7Wonders yang diselenggarakan oleh Daihatsu Motor Indonesia dimulai. Ekspedisi kali ini adalah yang ketiga kalinya yang diadakah oleh Daihatsu. Tim akan menjelajahi Pulau Sulawesi sepanjang 2.800 km dengan tema "Amazing Celebes Heritage". Sebelumnya Daihatsu juga mengadakan ekspedisi di Sumatera tahun 2012 dengan tema "Coffee Paradise" dan tahun 2013 lalu ekspedisi Jawa-Pulau Komodo dengan tema "Hidden Paradise". Kali ini tema yang diusung adalah kebudayaan yang memang merupakan bagian kekayaan yang tidak ternilai di bumi nusantara ini termasuk di wilayah Sulawesi. 

Jam 4 pagi para peserta dari media, blogger dan pihak Daihatsu sudah berdatangan. Blogger yang ikut dalam ekspedisi ini adalah Wira Nurmansyah, Barry Kusuma, Fahmi Rijal, Cumi Lebay dan saya sendiri. Tepat pukul 06.00 pesawat take off dari Bandara Soekarno - Hatta menuju Bandara Sam Ratulangi, Manado. Diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk sampai di lokasi tujuan. Dengan ditambah selisih waktu 1 jam Waktu Indonesia Tengah (WIT) sehingga tepat jam 11.00 kita sudah sampai di Manado. Perjalanan langsung dilanjutkan menuju penginapan Hotel Aryaduta dan langsung dijamu santap siang dengan aneka kuliner khas bumi Kawanua ini. Pedasss..

Selamat Datang di Bumi Kawanua

Pemandangan Laut Manado dari Hotel Aryaduta
Setelah istirahat sejenak kemudian sekitar jam 16.00 dilanjutkan dengan konferensi pers kepada media lokal tentang adanya ekspedisi "Amazing Celebes Heritage". Dalam kesempatan tersebut juga dipamerkan 7 (tujuh) mobil Daihatsu Terios TX yang terdiri 5 Manual Transmission (MT) dan 2 Automatic Transmission (AT)  siap menjelajahi Sulawesi. Jika sebelumnya ke tujuh mobil tersebut berwarna putih, kali ini cukup bervariasi, selain warna putih ada juga warna hitam, abu-abu dan merah marun. Selain itu dipaparkan juga rencana perjalanan yang memakan waktu sekitar 11 hari, diawali di Manado dan diakhiri di Wakatobi. Hampir semua wilayah propinsi di Sulawesi ini dilewati. Rasanya tidak sabar untuk memulai petualangan ini yang secara resmi akan diluncurkan besok hari.
Discover  The New Adventure : Terios 7 Wonders
Rencana Perjalanan Amazing Celebes Heritage
Setelah acara press conference selesai kami disuguhi pemandangan indah berupa sunset yang berada tepat di tepi tempat acara berlangsung. Sunset tersebut memperlihatkan siluet Gunung Manado Tua dengan indah dimana ada tempat indah juga yang ada dekat sana yaitu Bunaken.

Gunung Manado Tua menjadi siluet yang indah saat senja.
Di sana ada keindahan lain : Bunaken.

Thursday, May 29, 2014

Tugu Kilometer Nol : Dari Sini Indonesia Di Mulai

Untuk mencapai tugu ini diperlukan 40 menit dari Pelabuhan Sabang, Pulau Weh dengan jarak 32 km. Melewati jalan yang berliku, naik dan turun bukit. Perlu ekstra hati-hati 8 km terakhir karena jalannya sempit hanya selebar 5 meter. Transportasi dapat menggunakan kendaraan umum dengan tarif Rp 50.000,- per orang atau sewa kendaraan Rp 350.000 per hari.


Monday, May 19, 2014

Terdampar di Pulau Biak


Tuntutan pekerjaan yang membawaku terdampar sampai ke Pulau Biak. Beberapa bulan harus tinggal di sebuah pulau yang terletak di Samudera Pacific. 

Pulau Biak merupakan sebuah pulau karang yang berada di Papua. Pulau ini terpisah dari pulau Papua yang besar. Letaknya berada di Teluk Cendrawasih. Kalau kita naik pesawat dan akan turun di Bandara Frans Kaisepo Biak, rasanya seperti mau mendarat di Kapal Induk, karena terlihat kecil sekali.

Disaat waktu senggang, dengan ditemani teman baru dari sini, kumanfaatkan untuk menjelajahi pulau yang ternyata menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa, baik wisata alam, wisata budaya ataupun wisata sejarah. 

Pesona Pulau Biak sangat indah, terutama pantai-pantainya yang masih bersih dan jernih seperti Pantai Barito, Parai, dan Bosnik serta memiliki terumbu karang yang indah di Kepulauan Padaido. Pernah suatu hari jalan-jalan ke Biak Utara. Disana ada satu pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Ombaknya besar. Namun tempatnya sepi karena beberapa waktu lalu kawasan ini tersapu oleh tsunami. Jadi benar-benar serasa terdampar di sebuah pulau asing.

Dan yang paling seru adalah kegiatan mancing yang dilakukan malam hari. Setelah mendapat ikan yang besar-besar seperti ikan ekor kuning, ikan kakap merah, dll, ikan tersebut langsung dibakar. Jadi rasanya masih segar. Adapun nasinya ditanak dengan menggunakan buah kelapa. Jadi buah kelapa dikupas bagian atasnya kemudian masukkan beras sepertiganya. Kemudian dimasak diatas bara api. Setengah jam kemudian nasi sudah masak. Rasanya jangan ditanya karena sudah tercampur dengan air kelapa dan gurihnya daging kelapa. Ditambah ikan bakar segar dengan sambal dabu-dabu. Bisa nambah berkali-kali. Lain waktu menunya diganti bukan dengan ikan, tapi lobster! Wah pokoknya Benar-benar serasa terdampar di....surga.  

Selain itu terdapat peninggalan-peninggalan dari sisa-sisa Perang Dunia II masih terasa, seperti Goa Jepang dan Monumen PD II di Parai. Khusus untuk monumen ini, dibuat oleh pemerintah Jepang untuk mengenang tentara-tentara Jepang yang gugur pada saat perang pacific melawan sekutu. Setiap tahun, banyak turis asal Jepang yang merupakan keluarga dan kerabat yang gugur datang untuk mengenang dan melakukan upacara di tempat ini.

Banyak sekali kawasan-kawasan wisata yang sangat menarik. Pada saat penerbangan Jakarta - Biak - Honolulu - Los Angeles masih ada, perkembangan ekonomi di Biak cukup baik, namun seiring dengan ditutupnya jalur penerbangan ini, maka seakan-akan menutup roda perekonomian di kota ini. Termasuk diantaranya bangkrutnya Hotel Biak Marauw (Bintang 4) yang merupakan kebanggaan warga Biak.

Satu yang tidak bisa dilupakan, penduduk asli Biak, sangat ramah terhadap pendatang atau turis yang datang kesana. Mereka sangat antusias bila kita menanyakan sesuatu tentang pulau ini.

Waktu bergulir begitu cepat. 3 bulan "terdampar" berlalu tanpa terasa. Rasanya belum puas menjelajahi pulau kecil ini. Tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak tahu kapan akan kembali kesana, namun seorang teman mengatakan Biak itu singkatan dari Bila Ingat Akan Kembali!

Saturday, February 15, 2014

Sawarna, Surga Tersembunyi di Ujung Banten

Tepat jam 08:30 tim berangkat menuju destinasi pertama yaitu Desa Sawarna yang berada di wilayah Bayah, Banten. Untuk menghemat waktu, kami tidak melalui jalur Ciawi yang sering macet, namun kami memotong jalan via Jalan Cipaku Bogor hingga tembus di daerah Cihideung, sesudah Lido. Memang sih jalannya jadi sedikit curam dan berliku, namun Terios TX yang kami gunakan dapat melibas medan dengan mudah. Dari Cihideung kemudian menggunakan jalan alternatif lagi kemudian muncul di Parungkuda. Dari situ kami juga menggunakan jalur alternatif lagi melalui Cikidang yang melewati Sungai Citarik yang terkenal dengan arung jeram-nya. Kurang lebih satu jam melewati kawasan perkebunan dan hutan kami sudah tiba di Palabuhanratu tepat jam 12:00 sesuai dengan rencana. Jadi pas banget dengan waktunya makan siang yang kali ini diadakan di sebuah rumah makan tepat berada di tepi pantai.


Di daerah Cikidang menjelang Palabuhanratu
Di daerah Cikidang menjelang Palabuhanratu

Malam Sejuta Bintang di Ranu Pani

Hari ini akan mengunjungi Ranu Pani, sebuah danau (ranu) seluas 4 hektar tempat yang berada di kaki Gunung Semeru yang juga merupakan salah satu tempat tinggal suku Tengger. Sebelumnya kami mengunjungi tuan rumah Daihatsu Malang dan mendapat sambutan yang cukup meriah. Menjelang siang kami berangkat melalui daerah Kabupaten Lumajang. Walau jaraknya cukup dekat, berdasarkan data GPS adalah sekitar 51 km, namun untuk menuju kesana ternyata harus melalui jalan yang melingkar dan berliku. Ditambah dengan kondisi jaln yang berbatu dan rusak.

Saat perjalanan, kami cukup senang ketika melihat penampakan Gunung Semeru dari kejauhan. Namun keberadaan Gunung tersebut kadang ada, kadang menghilang. Kadang berada di kiri jalan, kadang ada di kanan jalan. Hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang berliku-liku (jangan berpikiran mistis dulu :))

Nampak Gunung Semeru dari kejauhan
Nampak Gunung Semeru dari kejauhan


Friday, February 14, 2014

Eksplorasi Taman Nasional Baluran



Pagi hari disibukkan dengan orang-orang yang akan mengejar sunrise. Mengingat momen tersebut sangat spesial, segera saya bangun dari tempat tidur, mengambil kamera dan ikut berburu sunrise. Sampai lupa mandi, bahkan sekedar ganti baju sekalipun. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi, tapi langit sudah terang benderang seperti jam 6 pagi. Memang sih di Kawasan Baluran ini sudah mendekati daerah Waktu Indonesia Tengah jadi wajar jika waktu pagi nya lebih terang.


Matahari sudah menampakkan sinarnya. Bentuknya yang berwarna jingga memberikan efek indah yang membentuk siluet dari pohon-pohon yang berada di sekitar Taman Nasional Baluran. Mata langsung disuguhkan pemandangan alam sabana yang luas seperti padang-padang di Afrika yang sering saya lihat di National Geographic.

Setelah selesai hunting foto sunrise, dengan menggunakan Terios, kami kembali menjelajahi dan mengeksplorasi keindahan alam Taman Nasional Baluran yang memiliki luas 25.000 Hektar. Sejauh mata memang terhampar dataran vegetasi sabana yang diselingi dengan pohon-pohon khas daerah kering. Sesekali kami harus mengendap-ngendap karena melihat adanya segerombolan kijang yang sedang mencari makan. Jika mendengar ada yang datang mereka langsung lari ke bagian hutan.

Ada pemandangan unik saat kami kembali ke wisma untuk sarapan pagi. Di depan wisma hadir beberapa monyet rambut mohawk yang siap menyantap makanan yang kita beri. Awalnya cuma satu dua ekor. Tapi lama-lama menjadi banyak. Seperti serbuan dari Planet of The Apes. Beberapa dari mereka bahkan berani masuk wisma jika pintu terbuka. Saya memergokinya sekali, tapi ketika melihat manusia mereka langsung kabur. Mungkin dalam pikirannya wah takut ada kingkong :D.
Ada kejadian lucu saat kami semua berkumpul di depan wisma. Saat melempar-lempar makanan, ada sepasang monyet yang memadu kasih, bahkan beradegan tidak senonoh. Kontan kami semua tertawa melihatnya. Huh dasar monyet :)) Satu kejadian lagi yang tidak saya lupakan yaitu ketika saya menyeduh kopi. Saat akan minum, baru ingat kamera tertinggal di dalam wisma. Kopi panas saya tinggal dan saya masuk mengambil kamera. Ketika saya kembali, ternyata kopi saya sudah diambil satu monyet dan sedang diminum, walau terlihat kepanasan, tetep aja tu monyet ngabisin kopi saya. Lagi-lagi saya cuma bisa berucap, Huh dasar monyet! :D
Semakin siang, semakin panas. Matahari memancarkan sinarnya dengan terik, kurang lebih sekitar 35-40 derajat, padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi. Bisa kebayang kan panasnya seperti apa. Kalau sudah begitu kita tinggal masuk ke dalam mobil dan ngadem setel AC cukup 2 bar.


Lagi-lagi kami dikejar oleh jadwal yang padat. Kami harus segere meninggalkan Baluran untuk menuju destinasi berikutnya. Dalam setengah jam kami sudah berangkat menuju pelabuhan Ketapang dan dalam waktu satu jam kita menyebrang sudah sampai di Gilimanuk. Welcome to Bali!

Selamat tinggal Pulau Jawa. Dari ujung barat selama tujuh hari kita sudah jelajahi bersama para sahabat petualang hingga ke ujung timur. Saatnya hopping dari pulau ke pulau. Setibanya di Bali, kami sempatkan istirahat dan makan siang dengan menu khas : Ayam Betutu. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat istirahat di Pulau Dewata ini yaitu Hotel Santika Kuta. Setelah makan malam di depan hotel, kami semua beristirahat kembali untuk menyiapkan tenaga untuk menuju destinasi berikutnya.

Jelajah Wisata Alam dan Budaya Lombok

Kali ini saya akan mengunjungi salah satu tempat wisata budaya di Pulau Lombok yaitu Desa Sade Rembitan (bukan Rambitan) yang berada di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Untuk mencapai desa ini cukup mudah, tidak jauh dari Kota Mataram dan berada di jalan utama menuju Pantai Kuta Lombok.

Mari Menari Tortor


Kolaborasi keindahan alam dan budaya menjadi daya tarik tersendiri sehingga membuat para turis baik dari mancanegara atau domestik tertarik untuk datang ke sebuah destinasi wisata di Indonesia.

Seperti yang saya alami ketika mengunjungi Danau Toba tanggal 7-9 Desember 2013 lalu. Tiga hari perjalanan terasa singkat mengingat banyaknya destinasi yang wajib dikunjungi di wilayah Sumatera Utara ini. Bukan hanya wisata alam dan budaya, tapi juga wisata sejarah dan wisata kuliner khas wajib dicicipi. Ini adalah kunjungan pertama saya ke Danau Toba.